Jadi Lumbung Padi Papua, Merauke Masih Hadapi Tantangan Harga

Jakarta, GPriority.co.id– Tantangan dari aspek harga masih sangat menentukan ke mana arah konsumen ingin membeli kebutuhan pangan mereka, tapi di sisi lain suplai juga menjadi tantangan.

Demikian disampaikan Ronald Roger Rohrohmana dari Gerakan Restorasi, Pedagang dan UMKM ketika ditemui pada acara APKASI Otonomi Expo 2022 yang berlangsung pada 20-22 Juli 2022. Secara terperinci Ronald menjelaskan potensi hasil pertanian beras di Merauke sangat besar, namun saat ini para petani dihadapkan pada tingginya harga pangan lokal.

“Kalau tantangan pangan lokal itu selalu berkaitan dengan harganya yang tinggi, relatif berbeda dengan harga pangan impor, sehingga itu menjadi tantangan untuk petani dalam negeri.”

“Bagaimana mereka nantinya dapat memiliki daya saing kuat dengan produk pangan dari luar dan tentu juga artinya di sini kita juga melihat bukan hanya harga, akan tetapi suplainya juga kurang. Maka dari itu kita masih impor.” Rincinya ketika ditemui di stand Kabupaten Merauke di Gedung JCC Senayan, Jakarta.

Menyiasati hal ini, menurut Ronald perlu ada intervensi agar petani mendapatkan insentif sehingga mampu terus berproduksi dan hasilnya itu dibeli masyarakat Indonesia.

“Artinya, konsumen juga harus lebih sadar akan pangan kita, walaupun mahal tapi kualitasnya berbeda dengan pangan yang di luar. Itu yang harus mulai disosialisasikan.”

Disebutnya Merauke merupakan salah satu kabupaten yang sangat progresif dengan komoditi unggulan hasil pertanian, perkebunan, maupun hasil laut. Selain itu, tanah Merauke juga cukup subur sehingga sejak tahun 2000an mampu menjadi daerah swasembada pangan di tanah Papua.

“Selain itu juga dari perkebunan seperti sawit. Potensi pengembangan sawit di sana sangat besar. Ada juga tanaman seperti kopi dan sagu masih menjadi tanaman yang bisa dikembangkan dan dikelola di sana.” Ungkapnya.

Ronald menyampaikan apresiasinya pada acara APKASI 2022 sebagai kegiatan positif untuk mempromosikan potensi daerah dan memperoleh investor.

“Ini jadi momentum untuk daerah mempromosikan diri mereka, keunggulan mereka sehingga bisa memperoleh masukan dari investor untuk datang dan berinvestasi di sana. Kemudian pelaku pasar dan UMKM bisa memperdagangkan hasil keunggulan daerah mereka.” Jelasnya.

“Dari sudut pandang bisnis, bagaimana UMKM bisa dikembangkan sehingga daya saingnya meningkat. Kemudian mereka juga diberikan fasilitas seperti perizinan yang memungkinkan mereka ikut dalam pasar. Ketiga, tentu akses pendanaan dari Pemkab itu penting. Saya rasa ini akan sangat membantu pelaku UMKM untuk bisa meningkatkan daya saing.” Sambungnya.

Meski demikian, Ronald menyarankan agar kegiatan seperti ini tidak terpusat di satu tempat saja untuk menghemat biaya dan waktu. Ia juga menilai jika konsep digitalisasi akan jauh lebih efisien.

“Kalau misalnya di sebar ke beberapa daerah di Indonesia, seperti kawasan timur, kawasan tengah, dan barat serta dilakukan secara berkala ataupun menyediakan semacan showroom bersama. Kemudian didukung lewat digitalisasi usaha, semacam showroom virtual yang ada sepanjang tahun. Saya rasa itu akan sangat membantu dan sangat efisien dari sisi anggaran.” sarannya.

Selain hasil pertanian, Kabupaten Merauke juga membawa produk UMKM berupa makanan kemasan, rajutan dari kulit buaya, dan berbagai macam jenis minyak pada APKASI 2022. (Vn.Foto.Vn)

Related posts