Kontroversi Brian Siawarta, Dicap Pendeta Sesat Hingga Dicerai Istri Karena Isu KDRT

Eks pendeta dan konten kreator Brian Siawarta/Foto : Dok. Instagram @briansiawarta Eks pendeta dan konten kreator Brian Siawarta/Foto : Dok. Instagram @briansiawarta

Jakarta, GPriority.co.id – Nama eks pendeta Brian Siawarta ramai disorot publik usai rumah tangganya dengan selebgram Rafaela Rahardja berada di ujung tanduk.

Dirinya dikenal sebagai mantan pendeta sekaligus konten kreator yang kini menghadapi gelombang kritik terkait isu dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dilansir dari sejumlah laporan media nasional, Rafaela melalui kuasa hukumnya dalam sidang perceraian di Pengadilan Negeri Tangerang, gugatan cerai diajukan setelah berbagai persoalan rumah tangga yang dinilai tak lagi bisa diperbaiki.

Dalam keterangannya kepada media, Rafaela mengungkap adanya dugaan KDRT, sikap tempramental, hingga masalah komunikasi yang memburuk dalam pernikahan mereka. Pasangan tersebut diketahui telah pisah rumah sejak Maret 2026. Keduanya kini tengah menjalani proses hukum terkait perceraian serta hak asuh anak.

Kabar perceraian Brian dan Rafaela langsung memicu reaksi luas di media sosial. Tak sedikit warganet yang mengaitkan persoalan rumah tangga tersebut dengan berbagai kontroversi yang sebelumnya pernah melibatkan Brian.

Salah satu kontroversi Brian ialah status pendeta. Rafaela menyebut, Brian sebenarnya sudah tidak lagi aktif menjadi pendeta dan telah mengundurkan diri sejak lama setelah pernikahan pertamanya berakhir.

Di luar persoalan rumah tangga, Brian juga sempat menjadi perdebatan di kalangan umat Kristen karena pandangannya mengenai tato. Ia juga disebut menganut paham kristen progresif.

Dalam sejumlah kesempatan, ia menyatakan bahwa memiliki tato tidak otomatis membuat seseorang menjadi pribadi yang buruk atau menjauh dari nilai-nilai keagamaan. Meski pandangan tersebut menuai dukungan dari sebagian kalangan, namun tak sedikit pula yang menolaknya, dan menilai seorang tokoh agama seharusnya dapat memberikan teladan berbeda.

Akibat pandangan tersebut, Brian beberapa kali mendapat label “pendeta sesat” dari pihak-pihak yang tak sepakat dengan pemikiran dan gaya penyampaiannya. Kritik pun semakin menguat usai beredar potongan-potongan pernyataan Brian di media sosial dan podcast.

Perdebatan mengenai batas antara interpretasi keagamaan dan kebebasan berekspresi pun kian mencuat. Kendati demikian, hingga kini belum ada putusan pengadilan terkait dugaan KDRT yang disampaikan dalam gugatan cerai tersebut.

Saat ini proses hukum masih berjalan dan publik pun menunggu perkembangan lebih lanjut dari kasus yang membuat nama Brian Siawarta kembali menjadi perbincangan nasional.