Jakarta, GPriority.co id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Wikimedia Indonesia menggelar Konferensi Open Indonesia 2026 di BRIN Grand Ballroom, Gedung Widya Graha, Jakarta Pusat, Rabu (24/6).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus mempercepat implementasi sains terbuka (open science) di Indonesia.
Konferensi tersebut merupakan tindak lanjut dari Peta Jalan Open Indonesia yang telah disusun bersama berbagai pemangku kepentingan. Sebanyak 250 peserta dari kalangan peneliti, akademisi, mahasiswa, pelajar, organisasi masyarakat sipil, hingga pegiat sains terbuka dari berbagai daerah hadir untuk membahas masa depan keterbukaan ilmu pengetahuan di Tanah Air.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa keterbukaan ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting dalam menjawab berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, krisis kesehatan, dan kesenjangan sosial.
“Gerakan terbuka bukan sekadar slogan akademik, melainkan paradigma yang mengubah cara ilmu pengetahuan diproduksi, diverifikasi, dan dimanfaatkan. Open science mempercepat diseminasi pengetahuan, memperluas akses bagi peneliti dan masyarakat, serta meningkatkan kredibilitas sains melalui transparansi data, metode, dan publikasi,” ujar Arif.
Menurutnya, implementasi sains terbuka membutuhkan dukungan infrastruktur yang kuat, kebijakan yang mendukung, dan investasi jangka panjang. BRIN sendiri terus mengembangkan ekosistem manajemen data riset melalui Repositori Ilmiah Nasional (RIN) guna memastikan data penelitian dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas.
Arif juga menyoroti pentingnya citizen science atau sains warga sebagai bagian integral dari ekosistem sains terbuka. Keterlibatan masyarakat dalam penelitian dinilai mampu memperluas kapasitas riset sekaligus meningkatkan literasi ilmiah publik.
Sementara itu, Direktur Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah (RMPI) BRIN, Hendro Subagyo, mengatakan konferensi ini menjadi ruang strategis bagi berbagai pihak untuk berbagi praktik baik, membahas tantangan, dan menyusun strategi bersama dalam memperkuat gerakan keterbukaan di Indonesia.
“Keterbukaan memungkinkan hasil penelitian dimanfaatkan secara lebih optimal, mempercepat inovasi, meningkatkan transparansi, serta memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan,” kata Hendro.
Salah satu target utama konferensi adalah menyusun rencana implementasi Rekomendasi Open Science UNESCO yang mendukung amanat wajib serah simpan data dan keluaran penelitian sesuai Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan meningkatkan pemanfaatan RIN sebagai platform penyimpanan data dan kolaborasi penelitian.
Melalui Konferensi Open Indonesia 2026, BRIN berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antarpemangku kepentingan sehingga keterbukaan dapat menjadi arus utama dalam ekosistem ilmu pengetahuan Indonesia yang lebih transparan, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat.
