Mahfud MD Tampil Nyentrik, Kenakan Baju Adat Madura Saat Debat Cawapres 2024

Penulis : M. Hilal | Editor : Dimas A Putra | Foto : Youtube/KPU RI

Yogyakarta, GPriority.co.id – Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut tiga Mahfud MD, hadir di kompleks Senayan JCC untuk melaksanakan debat Cawapres jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang.

Ganjar Pranowo selaku pasangan Calon Presiden-nya (Capres) turut mendampingi Mahfud MD dalam perhelatan debat Cawapres yang digelar di Halaman komplek JCC Senayan, Jakarta, Jum’at (22/12).

Perlu diketahui, pada debat perdana Cawapres ini bertajuk ekonomi kerakyatan dan ekonomi digital, keuangan, investasi pajak, perdagangan, pengelolaan APBN-APBD, infrastruktur, dan perkotaan.

Pada kesempatan itu, Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD, sangat tampil nyentrik. Ia mengenakan baju dengan motif belang berwarna merah putih khas adat Madura, ditambah dengan pakaian luar berupa rompi lengan panjang berwarna hitam.

Tidak hanya itu, Ganjar Pranowo yang menemaninya, juga mengenakan kemeja dengan kain motif khas Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia juga mengenakan topi khas sana, yakni Ti’i Langga yang terbuat dari anyaman daun pohon lontar.

Berikut Filosofi baju adat Madura yang dikenakan oleh Mahfud MD saat debat perdana Cawapres.

Filosofi Baju Adat Madura

Baju adat Madura disebut dengan baju pesa’an. Baju ini sering kali juga disebut dengan baju tukang sate dikarenakan umumnya digunakan oleh para penjual sate Madura. Selain modelnya yang simpel, pakaian tersebut juga nyaman digunakan sebagai pakaian sehari-hari.

Baju pesa’an merupakan pakaian yang memiliki ukuran serba longgar dan berwarna hitam. Ketika menggunakannya, dikombinasikan dengan kaos garis merah hitam atau merah putih.

Sementara itu, untuk bawahannya berupa celana gombrang disebut dengan gomboran. Panjang celananya di antara lutut dan mata kaki atau sampai mata kaki.

Selain itu, masyarakat Madura dikenal warga yang menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan. Sikap ini muncul karena memiliki prinsipnya, yakni rasa malu.

Menurut masyarakat Madura, hilangnya harga diri dianggap memalukan atau lebih rendah daripada kematian. Mereka menyatakan bahwa obat rasa malu adalah mati. Kasus carok di Madura berangkat dari prinsip, lebih baik putih tulang daripada putih mata.