Masyarakat Dihimbau Waspada Covid-19 Sub Varian Arcturus

Penulis : Ponco | Editor : Lina F | Foto : Kemenkes

Jakarta, Gpriority.co.id – Kasus COVID-19 sub varian Arcturus atau XBB 1.16 mengalami penambahan di tanah air. Masyarakat perlu mewaspadai dengan menjaga kesehatan serta menerapkan protocol kesehatan. Berikut ciri dan gejalanya.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Mohammad Syahril mengungkapkan terdapat penambahan kasus COVID-19 sub varian Arcturus atau XBB 1.16 dari menjadi 7 kasus. ”Semua pasien sudah sembuh, ada 5 kasus 2 dari Surabaya 3 ada di Jakarta. Alhamdulillah semuanya membaik dengan gejala yang ringan,” ujarnya dirilis laman Kemenkes.

Gejala dari sub varian baru ini hampir sama dengan gejala COVID-19 sebelumnya, yaitu, batuk, flu, demam, dan nyeri tenggorokan. Tetapi sejumlah negara ada yang melaporkan gejala khas berupa mata kemerahan atau konjungtivitas dan ada kotoran. Dirinya pun menghimbau masyarakat untuk tetap waspada. Pemakaian masker direkomendasikan untuk orang-orang yang merasa sakit seperti batuk flu dan buat mereka yang akan berdekatan dengan orang-orang yang sedang sakit.

Disamping itu, untuk meningkatkan pencegahan, pemerintah menganjurkan masyarakat melakukan tes cepat antigen mandiri. Terdapat dua produk yakni produk dalam negeri dengan kode AKD dan produk luar negeri dengan kode AKL. Produk itu bisa didapat di toko alat kesehatan, apotek atau tempat lain yang ada izin distribusi alat kesehatannya. Tes cepat antigen mandiri itu menggunakan metode nasal yaitu hanya memasukan alat melalui hidung.

Adapun tata caranya sudah tersedia petunjuk penggunaan pada produk. Setelah melakukan colok idung selanjutnya melakukan pindai kode QR yang ada pada produk melalui aplikasi SatuSehat. Apabila hasilnya positif harus ditindak lanjut dengan PCR. Tes cepat antigen mandiri ini bisa mendeteksi dini virus COVID-19. Selanjutnya akan mudah melakukan pencegahan atau pengobatan.

Terkait sub varian Arcturus masih dalam status undermonitoring, tidak termasuk variantofconcern. Menurut dr. Syahril, adanya sub varian baru biasanya telah terjadi kenaikan kasus di negara lain, dari 29 negara ada sejumlah negara yang melaporkan kasus terbanyak antara lain India, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia. ”Ini (sub varian Arcturus) asal mulanya dari India itu sangat banyak. Untuk Indonesia kalau kita melihat dalam satu minggu terakhir ada memang kenaikan kasus dan sudah ditemukan dua kasus di awal pada tanggal 5 April, dan hari ini kita umumkan ditambah 5 jadi 7 kasus,” tandasnya.

Dijelaskannya, meski terjadi kenaikan kasus, akan tetapi angka kematian masih belum melebihi batas yang disyaratkan oleh WHO yaitu saat di bawah 1/100.000 penduduk. Kemudian pasien yang dirawat masih belum di atas 5/100.000 penduduk. ”Jadi ini parameter-parameter walaupun terjadi kenaikan tapi masih menunjukkan angka-angka di bawah standar WHO itu masih stabil. Ini menjadi catatan kita semua sebagaimana peringatan WHO bahwasanya pandemi masih ada dan kemungkinan akan terjadi kenaikan kasus karena sumber varian baru,” pungkasnya.