Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kemandirian umat beragama dalam menjaga keseimbangan antara peran agama dan negara.
Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam pidatonya pada acara Madada Fest 2025: Festival Masjid Berdaya Berdampak di Kementerian Agama, Selasa (7/10).
Menurut Nasaruddin, umat yang berdaya adalah umat yang mampu memfasilitasi dirinya sendiri tanpa terlalu bergantung pada pihak luar, termasuk pemerintah maupun swasta.
“Jangan sampai nanti kita pintar membuat institusi, tapi pendanaannya khasnya adalah negara. Banyak sekali yayasan-yayasan, pendanaannya adalah bupati, pendanaannya adalah gubernur, sumber keuangannya satu-satunya adalah pemerintah. Umat yang berdaya adalah ketika umat itu mampu memfasilitasi diri sendiri. Yang kita harapkan sesungguhnya adalah kemandirian umat,” kata Nasaruddin.
Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada instansi lain dapat menghilangkan fungsi kritis umat terhadap pemerintah atau pihak swasta.
“Pasti unsur-unsur kritikal, unsur-unsur penilaian umat beragama itu kepada masyarakat akan berkurang dengan sendirinya. Kalau sepenuhnya kita tergantung kepada pemerintah, pasti kita tidak bisa mengkritik pemerintah. Takut diputuskan biaya hidupnya, organisasinya,” tuturnya.
Karena itu, lanjut Nasaruddin, perlu diciptakan konsep kemandirian umat yang tidak bergantung pada kekuatan di luar dirinya.
“Kalau kita ingin mempunyai fungsi kritis, fungsi penyeimbang terhadap suatu agama, maka umat beragama itu harus mandiri,” tegas Nasaruddin.
Ia menambahkan, menciptakan kemandirian umat merupakan salah satu tantangan utama pemerintahan di bidang keagamaan. Semakin mandiri umat, semakin kuat pula keseimbangan antara negara dan agama.
“Kapan agama tidak berdaya dan negara terlalu kuat, maka agama akan menjadi subordinasi daripada sebuah negara atau dari negara itu sendiri. Kita bisa lihat di negara-negara kerajaan di Timur Tengah, segala-galanya ditentukan oleh sentra kerajaan,” ucapnya.
Akibatnya, lanjut dia, umat dan para pemimpin agama bisa kehilangan peran sebagai pelaksana amar ma’ruf nahi munkar sesuai perintah agama.
“Kita tidak ingin menjadikan agama ini berkonfrontasi dengan negara, tapi energi agama harus memperkuat energi negara. Tapi juga sebaliknya, energi negara harus juga memperkuat energi agama,” katanya.
“Saling memperkuat satu sama lain, itu yang akan melejitkan sebuah bangsa menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Mari kita lihat potensi yang dimiliki oleh umat kita masing-masing,” pungkas Nasaruddin.
Pewarta : Fifi Abdurahman
