Jakarta, GPriority.co.id – Artritis reumatoid atau RA merupakan penyakit autoimun yang menyerang lapisan sendi, hingga menyebabkan pembengkakan dan kekakuan yang menyakitkan.
Menurut laporan NY Post, sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta warga Amerika Serikat hidup dengan artritis reumatoid. Penyakit ini bukan hanya memengaruhi persendian, namun juga menyebabkan permasalahan pada mata, pembuluh darah, saraf, kulit, jantungan, paru-paru, serta organ lainnya.
Respon autoimun pada RA dapat memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut pada jaringan paru-paru, yang menyebabkan penyakit paru interstisial. Penyakit ini paling sering terjadi pada pasien antara usia 40-60 tahun. Namun orang di luar rentang usia tersebut juga kemungkinan dapat mengidapnya.
Dibandingkan dengan laki-laki, wanita memiliki kemungkinan sekitar dua hingga tiga kali lebih besar untuk mengidap artritis reumatoid. Sebagian besar terjadi karena perubahan hormonal pasca melahirkan serta menopause.
Meski belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun kemungkinan besar disebabkan karena riwayat keluarga, faktor genetik tertentu, faktor lingkungan, serta kebiasaan merokok.
Umumnya, penyakit ini mulai menyerang persendian kecil di tangan dan kaki, serta pergelangan tangan. Gejalanya meliputi pembengkakan dan kekakuan di pagi hari yang berlangsung selama lebih dari 45 menit. Selain itu, pengidapnya juga bisa merasa kelelahan, terjadi penurunan berat badan, hingga nyeri otot.
Satu hal yang bisa memperburuk gejalanya ialah tidak menjaga kebersihan mulut dengan baik. Pasalnya, bakteri di mulut dapat masuk ke aliran darah dan memperburuk peradangan sistemik yang menjadi akar penyebab gejala dan komplikasi artritis reumatoid.
Untuk mengetahui lebih lanjut terkait penyakit ini lebih lanjut, anda dapat menemui dokter spesialis reumatologi. Sebagai catatan penting, apabila tidak diobati, artritis reumatoid dapat berkembang menjadi erosi tulang dan tulang rawan, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular akibat peradangan kronis.
