Pemprov Gorontalo Berinovasi Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan Gorontalo berupaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Yana Yanti Suleman mengungkapkan peningkatan jumlah kematian ibu di Gorontalo pada tahun 2019 sebanyak 40 orang, tahun 2020 sebanyak 56 orang, dan pada tahun 2021 sampai pada bulan September sebanyak 38 orang.

“Sedangkan jumlah kematian bayi pada tahun 2019 sebanyak 242 bayi, tahun 2020 sebanyak 244 bayi, dan tahun 2021 sampai dengan bulan Juli sebanyak 128 bayi,” katanya.

Hal tersebut Ia utarakan pada pertemuan konvergensi dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Selasa (28/9/2021).

“Kami sampaikan kemarin bahwa target penurunan AKI pada akhir RPJMN 2020-2024 adalah 183 per 100.000 KH (kelahiran hidup), hasil Survel Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan penurunan angka kematian neonatal hidup pada tahun 2012, dan 15 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017,” katanya.

Terkait hal tersebut, Yana mengatakan salah satu upaya dalam percepatan penurunan AKI dan AKB adalah memberikan perhatian serius dalam mengatasi masalah komplikasi pada saat kehamilan, persalinan nifas serta penanganan bayi neonatus.

Sebagian komplikasi dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani, yaitu ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan, tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai.

Antara lain penggunaan partograf untuk memantau perkembangan persalinan dan pelaksanaan manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan pascasalin.

“Selain itu adalah tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi, apabila komplikasi terjadi, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan, dan proses rujukan efektif, serta pelayanan di rumah sakit yang cepat dan tepat guna,” tuturnya.

Dari laporan SRS tahun 2016, kematian ibu di sebabkan oleh hipertensi (33%), perdarahan obstetrik (27%), komplikasi non-obstetric (15,7%), komplikasi obstetric lainnya (12%), infeksi (6%) dan lainnya (4,81%).

Selain itu juga ada kompikasi kejadian inpartum (28,3%), gangguan respiratori dan kardiovaskiulator (21,3%), BBLR/prematur (1%), kelainan bawaan (14%), infeksi (7,2%), tetanus neonatorum (1,2%) dan lainnya.

Yana menuturkan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi perlu dilaksanakan intervensi terkoordinir, terpadu dan bersama-sama melaksanakan program pelayanan KIA pada kelompok sasaran prioritas. (Dwi.foto.dok.Humas Gorontalo)

Related posts