Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi apresiasi terhadap hadirnya inovasi bahan bakar alternatif Bobibos.
Bobibos dikembangkan oleh masyarakat dan pelaku industri di Indonesia dan belakangan menjadi viral di media sosial. Menyoroti hadirnya Bobibos, Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut bahwa setiap produk harus melalui uji kelayakan serta sertifikasi resmi sebelum digunakan publik.
Adapun menurut Laode, proses pengujian di lembaga seperti Lemigas meliputi beberapa tahap teknis dan memakan waktu minimal delapan bulan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan mutu, keamanan, serta emisi yang sesuai dengan standar nasional.
“Saya tidak ingin mengurangi apresiasi saya terhadap inovasi anak bangsa. Tapi untuk menguji suatu BBM lalu menjadi bahan bakar itu minimal delapan bulan baru kita bisa putuskan apakah ini layak atau tidak,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari laporan ANTARA pada Jumat (14/11).
Sulaeman menekankan, laporan hasil uji bukanlah berupa sertifikasi legal. Kementerian pun siap membuka kerja sama dengan badan usaha guna menguji inovasi yang sesuai dengan mekanisme resmi.
Di lain sisi, pendiri bahan bakar Bobibos, M. Iklas Thamrin, berencana ekspansi pembangunan SPBU Bobibos dan BosMini untuk memperluas akses energi ramah lingkungan yang bisa dijangkau hingga ke pelosok Indonesia.
Perlu diketahui, bahan bakar alternatif tersrebut dikembangkan dari bahan nabati dengan melalui proses biokimia secara bertahap yang menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi, beremisi rendah, serta berharga ekonomis.
Iklas menekankan, kehadiran inovasi bahan bakar alternatif ini menjadi bagian dari visinya untuk menghadirkan “energi rakyat” dengan satu harga, dari Sabang sampai Merauke.
Melalui inovasinya, Iklas berharap pemerintah dapat memberi dukungan regulasi agar inovasinya dapat segera menjadi bahan bakar alternatif nasional yang bukan hanya legal, tapi juga mampu berdaya saing.
“Bobibos ingin menjadi energi rakyat yang hadir di seluruh pelosok negeri. Dengan SPBU dan BosMini, kami ingin satu harga dari Sabang sampai Merauke,” tekan Iklas, dikutip GPriority dari laporan ANTARA.
