Presiden AS Ke- 39, Jimmy Carter Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Jakarta, GPriority.co.id – Dilansir dari kompas (30/12), Jimmy Carter, Presiden ke-39 Amerika Serikat, meninggal dunia di Plains, Georgia pada Minggu (29/12) siang waktu setempat. Carter yang juga dikenal sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002 tutup usia di usia 100 tahun. Diketahui, Carter baru saja merayakan ulang tahunnya ke-100 pada Oktober 2024 lalu.

Riwayat penyakit Jimmy Carter Diberitakan Al Jazeera, Senin (30/12), Carter telah berada perawatan paliatif sejak Februari 2023. Setelah menjalani rawat inap beberapa kali, dia memilih untuk dirawat di rumah. Sebelumnya, mantan presiden AS tersebut telah didiagnosis menderita kanker pada tahun 2015. Meski begitu, dia merespons pengobatan dengan baik.

Chip Carter, putra Jimmy Carter, menyebut ayahnya sebagai seorang pahlawan.

“Ayah saya adalah seorang pahlawan, bukan hanya untuk saya tapi semua orang yang percaya pada perdamaian, hak asasi manusia, dan cinta tanpa pamrih,” ungkap Chip Carter dalam sebuah pernyataan dikutip dari BBC, Senin (30/12).

Dalam pernyataan tersebut, keluarga juga meminta dunia mengingat Carter dengan melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang dijunjungnya seperti keadilan dan kemanusiaan. Carter meninggalkan empat anak, 11 cucu, dan 14 cicit.

Carter sering dipandang sebagai salah satu mantan presiden yang paling aktif dan humanis dalam sejarah AS, lebih dikenal karena karya filantropinya setelah masa jabatannya dibandingkan dengan pencapaiannya saat menjabat.

Krisis dan Tantangan Saat Menjabat

Masa kepresidenan Carter penuh dengan tantangan domestik dan internasional yaitu Krisis Penyanderaan Iran (1979–1981) dimana sebanyak 52 warga Amerika disandera di Kedutaan Besar AS di Teheran oleh revolusioner Iran selama 444 hari. Carter berusaha membebaskan mereka melalui diplomasi dan operasi militer yang gagal, yang berdampak buruk pada popularitasnya.

Tidak hanya itu, lonjakan harga minyak dan kelangkaan energi menciptakan ketidakpuasan di dalam negeri. Carter mendorong kebijakan konservasi energi dan pengembangan energi alternatif. Tingkat inflasi tinggi (stagflasi) melemahkan perekonomian, sehingga banyak rakyat AS merasa kecewa.

Meskipun masa kepresidenannya dianggap kontroversial dan kurang berhasil oleh beberapa pengamat, Carter dipuji karena integritas, komitmen terhadap perdamaian, dan kontribusi besar setelah meninggalkan jabatan. (*)

Foto : Istimewa