Stone of Art di Wot Batu Bandung

Wot Batu merupakan sebuah objek wisata seni dan budaya yang berada di kawasan Selasar Sunaryo Art Space, tepatnya di Jalan Bukit Pakar Timur No.98, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jawa Barat.

Berdiri di atas lahan terbuka seluas 2.000 m2, galeri ini dibuka dan diresmikan pada tanggal 4 September 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu, Anies Baswedan. Yang menjadi daya tarik dari tempat wisata ini adalah terdapat berbagai karya seni berupa batu yang diwujudkan dengan menyusun ataupun dipahat secara artistik, berpadu dengan pemandangan alam yang asri.

Dari namanya, “Wot” dalam bahasa Jawa berarti jembatan, jadi Wot Batu adalah jembatan batu. Hal tersebut bisa direfleksikan sebagai sebuah jembatan batu, yang mengandung makna jembatan spiritual manusia. Seniman dibalik mahakarya ini adalah Sunaryo, seorang seniman senior yang lahir di Banyumas, 15 Mei 1943 yang kini menetap di Bandung bersama dengan karyanya. Sunaryo juga lulus dari universitas terkemuka di Indonesia, yaitu Institute Teknologi Bandung (ITB).

Wot Batu ini juga menjadi sebuah tempat yang lahir dari konfigurasi energi spiritual, dan mengandung makna filosofi yang kuat tentang bagaimana kehidupan manusia selanjutnya di alam akhirat dan keabadian. Sunaryo juga ingin mengingatkan kita sebagai makhluk bumi yang berasal dari alam. Sejalan dengan batu yang merupakan elemen alam, dan menjadi saksi terjadinya segala sesuatu yang ada di bumi.

Berdasarkan panduan dari guide book Wot Batu, terdapat 11 instalasi bebatuan yang menghiasi galeri seni, dan menjadi harmoni dalam setiap sentuhan bebatuan yang tersusun, diantaranya (1) Batu Abah Ambu, (2) Batu Mandala, (3) Lawang Batu, (4) Batu Api, (5) Batu Air, (6) Wot Batu, (7) Batu Ruang, (8) Batu Sepuluh, (9) Batu Seke, (10) Batu Angin, dan (11) Batu Waktu.
Kurang lebih terdapat 135 bebatuan yang diambil dari batu vulkanik. Bebatuan tersebut dikreasikan dan ditempatkan sebagai perlambangan alam semesta dan kehidupan manusia. Di sini juga disediakan pemandu yang dapat menjelaskan instalasi-instalasi seni Wot Batu. Banyak sekali spot foto artistik yang bisa kita ambil, namun sayangnya berfoto di sini hanya diperbolehkan menggunakan kamera handphone.

Ketika memasuki pintu masuk, pengunjung disambut Gerbang yang di atasnya tersusun batu besar, kemudian di sisi kanan dan kirinya juga disangga dengan batu yang telah diukir sedetai mungkin oleh Sunaryo. Batu – batu ini menjadi lorong transisi dan menjadi pemisah antara dunia luar dan Wot Batu. Di bagian lorong ini juga ditaruh batu kerikil, agar saat berjalan di atasnya pengunjung berjalan dengan pelan dan berhati-hati.

Pemandangan pertama yang kita lihat setelah melewati gerbang adalah Batu Abah Ambu yang berarti ayah dan ibu, dan menyerupai Lingga (kejantanan) dan Yoni (kesuburan). Yang mana Batu Abah melambangkan sisi maskulin, dan Batu Ambu melambangkan sisi feminim. Sepasang batu pertama yang mengisyaratkan asal kehidupan manusia.
Ada juga Batu Merenung, di sana disediakan sebuah kursi yang menghadap ke arah timur, menyuguhkan pemandangan seluruh area Wot Batu. Sesuai dengan namanya, batu merenung ini digunakan untuk merenung dan mencari inspirasi. Yang menarik, diantara bebatuan tersebut terdapat batu yang berasal dari Gua Hira Mekkah. Batu seukuran kepalan tangan ini terletak di Mushala yang terpasang dikaca dan dicetak dengan surat Al Fatihah. Batu ini diharapkan dapat membangun koneksi kita saat sedang shalat dengan Ka’bah di Makkah.

Selain itu ada Batu Mandala yang berupa lempengan dengan pahatan melingkar di tengahnya. Pahatan ini merupakan garis simetris yang menggambarkan hubungan manusia dengan manusia sebagai makhluk sosial. Garis-garis lingkaran ini menyebar hingga ke bagian panggung, menandakan hubungan ini akan berlangsung terus menerus dan tidak diketahui kapan akan berakhir. Dari kejauhan, tampak Batu Air yang seperti Stonehenge dari inggris berdiri di atas air. Bebatuan ini terletak di atas kolam air tanpa batas, melebur dengan sempurna bersama alam. Batu air ini memiliki simbol dimensi lain akhir dari perjalanan manusia yaitu kematian.

Di tengah kawasan Wot Batu, terdapat Lawang Batu sebagai pintu yang membuka jalan dua dimensi yaitu kehidupan menuju kematian. Semua ukiran batu dilakukan menggunakan peralatan modern yang mana Sunaryo pun memberi cap jarinya di atas yang mengandung unsur Yin dan Yang karena bentuk sidik jarinya yang saling mengunci. Hal ini pun menjadi bukti mengenai peninggalan peradaban manusia abad ke-21. Berikutnya, ada Batu Sepuluh yang merupakan tumpukan 10 batu tersusun menyerupai tiang yang menjulang ke langit. Batu Sepuluh menyimbolkan keseimbangan, kekuatan gravitasi, dan spiritualitas.
Di ruang bawah tanah Wot Batu terdapat ruang audiovisual yang disebut Batu Ruang. Di sini terdapat video karya seni berdurasi lima menit yang membahas tentang konsep pembuatan alam semesta. Alam semesta diawali dengan terjadinya suatu ledakan dahsyat yang dikenal dengan Big Bang. Ruangannya pun sengaja dibuat gelap untuk mengingatkan kita sebagai makhluk bumi yang kecil jika dibandingkan dengan alam semesta yang sangat luas.

Dan terdapat batu-batu lainnya yang sarat akan nilai dan makna kehidupan. Melalui karya seni tersebut, pengunjung diajak memahami dan mengenal filosofi kelahiran, interaksi sosial, hingga kematian. Setelah berkeliling Wot Batu pengunjung dapat menonton video proses pembuatan Wot Batu yang dibuat dalam kurun waktu tiga tahun, dan juga kita dapat menikmati minuman tradisional gratis yang sudah termasuk dalam biaya tiket masuk.

Untuk bisa memasuki galeri ini, pengunjung memperlihatkan bukti kartu indentitas dan dikenakan tiket masuk kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000, untuk pengunjung lansia diatas 70 tahun tidak dikenakan biasa masuk alias gratis. Jam buka Wot Batu dari pukul 10.00 WIB sampai 18.00 WIB.(Dwi)

Related posts