4 Legenda Papua yang Berprestasi

Papua dikenal sebagai gudangnya atlet. Ini bisa terlihat dari banyaknya pemain asal Papua di sepakbola, atletik dan bertinju.

Berbekal alasan itu pulalah di dalam gelaran PON XX yang diadakan di rumah sendiri, kontingen Papua menargetkan juara umum. Bertepatan dengan PON XX, Gpriority pun menyajikan 4 atlet Papua berprestasi dari semua cabang. Berikut daftar atlet Papua yang berprestasi.

Franklin Ramses Burumi Pelari Tercepat Asal Papua

Franklin Ramses Burumi, salah seorang pelari asal Papua yang mampu menorehkan tiga emas bagi Indonesia dari nomor 100 meter, 200 meter dan 4×100 meter estafet putra di Sea Games 2011.

” Awalnya saya dipandang sebelah mata oleh para lawan, karena nama saya tidak sehebat Sumardi dan saya belum pernah bertanding di level internasional. Karena dipandang sebelah mata inilah makanya saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa berprestasi. Puji Tuhan saya berhasil mempersembahkan tiga emas bagi Indonesia,” jelas Franklin.

Sama seperti anak Papua kebanyakan, bakat Franklin yang lahir di Serui 30 tahun yang silam berasal dari bakat alam. ” Kami anak Papua selalu naik turun gunung, dari situlah saya melatih lari saya dan terpilih mewakili Papua di Kejuaraan daerah,” jelas Franklin.

Kejuaraan daerah itulah yang menjadi pembuka jalan Franklin menuju pentas internasional. Karena salah seorang pemandu bakat merekomendasikan Franklin ke PB PASI untuk diikutsertakan dalam Sea Games 2011.

Franklin yang hadir menggantikan pelari Suryo Agung merasa senang karena impiannya untuk bertanding di ajang internasional kesampaian.Bersama pelari lainnya dia pun tekun berlatih. Hasilnya dia mampu menyabet tiga medali sekaligus. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan Indonesia dan juga Papua.

Biodata:

Nama : Franklin Ramses Burumi

Tempat/Tanggal Lahir : Serui, 14 Mei 1991

Kebangsaan : Indonesia

Prestasi : Medali Emas di Sea Games 2021 kategori 100 meter, 200 meter dan 4X100 meter estafet putra

 

Septiana Nur Zahiroh, Penyumbang 3 Medali untuk Papua

Meski bukan asli Papua, Septiana Nur Zahiroh yang lahir di Kediri 12 September 1996 tetap menampilkan permainan yang memukau saat membela kontingen Papua di PON XIX Jawa Barat pada 2016. Alhasil dirinya mampu meraih 3 medali di cabang tenis.

Di nomor ganda campuran berduet dengan Esmid Muhammad Ridho dia berhasil menyumbangkan medali emas. Lalu di nomor tunggal putri dan di beregu putri dia mempersembahkan 2 medali perunggu.

“Prestasi saya yang paling menonjol itu di PON XIX Jawa Barat waktu dapat 1 medali emas, dan 2 perunggu. Itu prestasi tertinggi yang pernah Aku dapat. Aku berharap dengan medali yang kupersembahkan mampu mengangkat tenis menjadi olahraga yang digemari,” tutur Zahiroh usai meraih medali.

Menurut Zahiroh, olahraga tenis di Papua tergolong kurang diminati oleh generasi muda yang lebih senang dengan sepakbola dan atletik. Hal inilah yang membuat atlet tenis di Papua terbilang sangat kurang. “Namun setelah aku berhasil persembahkan medali, tenis kini menjadi salah satu olahraga yang sangat digemari. Aku yakin dengan banyaknya atlet tenis, target kontingen di PON XX Papua yakni emas bisa terpenuhi,” ucap Zahiroh.

Lantas siapakah Septiana Siti Zahiroh? Dilansir dari laman resminya, Septiana Siti Zahiroh merupakan atlet tenis yang lahir di Kediri 24 tahun silam. Bakat tenis yang didapat berasal dari ayahnya. ” Sejak kecil ayah melatihku bermain tenis. Dari kelas 6 SD sudah ikut turnamen-turnamen. Saya main tenis karena ayah saya pelatih tenis di Kabupaten Bojonegoro, dan kakak saya juga main tenis di Jawa Timur. Saya dari kecil sudah ikut Porprov dan kejuaraan junior dan dilatih ayah saya,” kata Zahiroh.

Bakat Zahiroh inilah yang membuat kontingen Jawa Timur tertarik untuk merekrutnya, sayangnya bersama Jawa Timur dirinya tidak mendapatkan prestasi. Meski tidak mendapatkan prestasi, Kalimantan Timur tertarik untuk merekrutnya.Namun sayangnya usai kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi, dirinya tidak memperoleh kejelasan apakah akan diikutsertakan dalam PON atau tidak. Alhasil tawaran dari Papua untuk membela kontingennya di PON XIX Jawa Barat di tahun 2016 langsung dia ambil.

Keputusan Zahiroh terbilang tepat karena di Papua, ia bisa tampil cemerlang dan menorehkan 3 Medali. Prestasi inilah yang membuat Zahiroh yang kini bertugas di Kepolisian Jakarta tetap dipakai saat PON XX Papua.

Biodata:

Nama Lengkap : Septiana Nur Zahiroh

Tempat/Tanggal Lahir : Kediri, 12 September 1996

Prestasi:

– Emas di Ganda Campuran PON XIX Jabar

– Perunggu di Tunggal Putri PON XIX Jabar

– Perunggu di nomor Beregu Putri PON XIX Jabar

 

Ronny Wabia, The Legend

Bagi Anda yang lahir di tahun 1990 pasti mengenal betul sosok pria yang satu ini. Betul, dia adalah Ronny Wabia, mantan Pemain Persipura Jayapura dan Timnas Indonesia.

Di eranya, pemain yang mendapat panggilan The Legend dari netizen ini dikenal sebagai gelandang serang yang memiliki umpan yang sangat memanjakan striker. Tak hanya itu, Ronny juga dikenal sebagai pemain yang memiliki tendangan geledek.

Hal inilah yang membuat putra asli Papua ini menjadi pemain paling bersinar di Piala Asia Uni Emirat Arab 1996 silam. Kini setelah lama gantung sepatu, sang pemilik tendangan kaki kiri handal ini tengah fokus menggeluti profesinya sebagai karyawan Bank Papua. Profesi yang digelutinya mulai daritahun 1997 hingga saat ini.

Nama Ronny sendiri mulai dikenal usai lulus dari PPLP Papua bersama Aples Tecuari, Chris Yarangga hingga Ritham Madubun. Bahkan, dia sukses membawa harum nama Papua di Indonesia usai membawa timnya menjuarai PON 1993 silam.

Bakat Ronny pun dicium oleh Persipura Jayapura setahun berselang. Dia lantas diikutsertakan dalam skuad yang berhasil promosi ke Divisi Utama saat itu. Ternyata, penampilan sosok kelahiran 23 Juni 1970 itu terus melesat. Ronny lantas menjadi tulang punggung Mutiara Hitam yang melaju hingga semi final Liga Indonesia 1995-1996, pencapaian tertinggi bagi tim kala itu.

Sayangnya memang, di semifinal Persipura kala itu harus mengakui kemenangan PSM Makassar yang menang 4-3. Namun begitu, meski gagal mengantarkan Mutiara Hitam ke partai puncak, Ronny Wabia tetap bisa tersenyum sebab dirinya kala itu dinobatkan menjadi pemain terbaik Liga Indonesia edisi kedua.

“Waktu itu saya tak meyangka. Saya merasa banyak kekurangan, tapi semua itu anugerah dari Tuhan. Saat itu, saya ingin buktikan kepada masyarakat yang ragu,” ungkap Ronny Wabia.

Penampilan istimewanya itu jelas mengantarkan Ronny Wabia dipanggil pelatih Danurwindo ke skuad Timnas Indonesia yang dipersiapkan ke Piala Asia 1996. Tak dinyana, Ronny langsung nyetel bersama skuad Garuda kala itu. Dia bahkan berhasil membentuk duet maut bersama Widodo Cahyono Putro dalam keikutersertaan perdana Indonesia di Piala Asia. Tak hanya nyetel, duet maut itu berhasil membuat masyarakat Asia dan dunia takjub. Karena Widodo CP begitu Widodo Cahyono Putro disapa melakukan gol salto yang indah. Namun, mereka tampaknya sedikit lupa kalau ada sosok Ronny Wabia di balik itu. Saat gol WCP tercipta melawan Kuwait, legenda Persipura inilah yang jadi kreatornya. Dia dengan jeli melepaskan umpan silang dari sisi kiri pertahanan Kuwait setelah menggiring bola melewati beberapa pemain lawan.

Bahkan, menit ke-40 Ronny pun ikut mencatatkan skor dalam laga yang sama. Tak kalah indah, dia pun mencetak gol dengan tendangan voli first time sangat keras dari luar kotak penalti yang memanfaatkan bola muntah tepisan kiper Kuwait.

Biodata:

Nama : Ronny Wabia

Tempat/tanggal lahir : Biak, 23 Juni 1970

Posisi : Striker

Karir Senior : Persipura Jayapura

Timnas : Indonesia

 

Yapa, Atlet Wushu Papua Peraih Perunggu PON Jabar  

Papua dikenal memiliki segudang atlet yang memiliki talenta, salah satunya adalah Rahmat Renwarin atau lebih dikenal dengan panggilan Yapa. Sebagai atlet wushu, Yapa berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi kontingen Papua di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat tahun 2016 silam. Dengan medali yang diperoleh Yapa, tim wushu Papua berhasil mempersembahkan 1 medali.

Yapa yang lahir di Merauke 26 Mei 1984 tidak menyangka bahwa keputusannya pindah cabang olahraga di tahun 2014 silam juga membuahkan hasil yang manis bagi karirnya. Sebelum menekuni olahraga bela diri ini, Yapa merupakan seorang petinju amatir. Sebagai petinju, Yapa juga memiliki karir yang manis dengan mempersembahkan medali perunggu bagi kontingen Papua di Palembang tahun 2004. Yapa juga mendapatkan medali perunggu dalam event Arafura Games yang digelar di Australia pada tahun 2000 dan 2004.

Prestasi juga menghampiri Yapa saat dirinya beralih ke tinju profesional, 3 gelar juara nasional diraih olehnya dalam kurun waktu 3 tahun. Berbagai prestasi yang diraih Yapa ternyata tidak membuat dirinya bertekad terus menekuni dunia tinju. Buktinya di tahun 2014, dirinya beralih profesi menjadi atlet wushu. Keindahan yang diperlihatkan dalam seni bela diri bebas inilah yang menjadi alasannya.

Meski baru bergabung, Yapa terpilih ke dalam tim wushu Papua yang dipersiapkan pada Pra PON XIX di Jawa Barat. Terpilih mewakili Papua kembali membuat semangat Yapa semakin membara. Ia pun meningkatkan latihannya. Yapa yakin dengan latihan tekun yang dia jalani bisa memberikan prestasi bagi Papua di ajang tersebut.

Dalam debut perdananya itu, Yapa berhasil menyabet juara kedua dan membawa pulang medali perak Pra PON 2015 di Jawa Barat. Yapa pun lolos ke PON XIX di Provinsi yang sama dan ia juga menyumbangkan medali perunggu ketika itu.

Yapa juga berjanji akan memberikan prestasi yang manis pada ajang PON XX. Sayangnya cidera ligamen yang dideritanya saat berlatih membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk tampil di PON XX yang berlangsung di kampung halamannya sendiri yakni Papua.

Meski tidak dapat tampil, Yapa tetap bisa mendampingi para atlet wushu Papua, karena dirinya ditunjuk sebagai asisten pelatih I tim Wushu mendampingi Sanda Andriani Made yang menjadi pelatih kepala. Yapa yakin dengan tidak tampil dirinya, wushu Papua bisa mempersembahkan prestasi di rumah sendiri, mengingat di PON XX Papua kali ini, tim wushu dihuni atlet potensial seperti Moria Manalu kelas 60 kg sanda putri, Deni Arif kelas 75 kg putra, Demonsal Baimo kelas 52 kg, Stefano Rumangith kelas 56 kg, Hendrik Rikut 65 kg, Selvi Dwi Utami kelas 48 kg, serta Merry Awee kelas 56 kg.

Biodata:

Nama : Rahmat Renwarin

Tempat/tanggal lahir : Merauke, 26 Mei 1984

Prestasi :

– Medali Perunggu- PON Palembang 2004 (Tinju)

– Medali Perunggu Arafura Games 2000 dan

2004 (Tinju)

– Juara Nasional 3 Kali (Tinju)

– Medali Perak- Pra PON XIX Jawa Barat 2016

(wushu)

– Medali Perunggu- PON XIX Jawa Barat 2016.(Hs.Foto.

Related posts