Tel Aviv, Gpriority.co.id – Lebih dari 50.000 personel militer Israel ternyata memiliki setidaknya satu kewarganegaraan asing selain Israel, ungkap laporan harian Yedioth Ahronoth edisi Sabtu (15/2) berdasarkan data resmi militer. Angka ini dirilis setelah permintaan informasi publik dari kelompok advokasi transparansi Hatzlacha, yang diajukan hampir setahun lalu pada Maret 2025.
Menurut data tersebut, sebanyak 50.632 tentara Israel memiliki kewarganegaraan ganda. Dominasi terbesar datang dari Amerika Serikat dengan 12.135 personel, diikuti Prancis (6.127), Rusia (lebih dari 5.000), Jerman dan Ukraina (masing-masing lebih dari 3.000). Selain itu, lebih dari 1.000 tentara memiliki kewarganegaraan Inggris, Rumania, Polandia, Ethiopia, atau Kanada, sementara sisanya tersebar di negara lain.
Uniknya, 4.440 tentara punya dua kewarganegaraan asing tambahan, dan 162 memiliki tiga. Militer Israel belum mengklarifikasi apakah data ini mencakup pasukan aktif (sekitar 170.000 orang) atau cadangan (400.000-460.000 orang).
Laporan ini menyoroti fenomena warga asing, khususnya Eropa, yang bergabung sukarela dengan Israel Defense Forces (IDF) melalui sebuah program untuk pemuda Yahudi non-Israel. Banyak yang berasal dari negara Barat.
Akan tetapi, kehadiran personel berganda ini menuai kontroversi. Belgia, misalnya, menerapkan yurisdiksi universal untuk memeriksa tentara IDF atas dugaan kejahatan perang di Gaza. Kasus mencolok terjadi Juli 2025, ketika polisi federal Belgia menangkap dua tentara Israel saat liburan di festival Tomorrowland. Penangkapan itu berdasarkan pengaduan Hind Rajab Foundation dan Global Legal Action Network soal pelanggaran Konvensi Jenewa, meski keduanya dibebaskan tanpa dakwaan setelah interogasi.
Pengungkapan ini menjadi rincian publik pertama tentang komposisi kewarganegaraan di IDF, memicu diskusi soal loyalitas dan implikasi hukum internasional.
Foto : Istimewa
