ARCH:ID 2026 Siap Digelar di ICE BSD, Angkat Konsep Inklusivitas Arsitektur

Press Conference Pre-Event ARCH:ID 2026 di Jakarta Barat, Sabtu (11/4)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Pameran arsitektur tahunan sekaligus ajang dagang, ARCH:ID, akan digelar pada 23–26 April 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Pada tahun ini, ARCH:ID mengusung tema “Skema Sintesa”.

Kurator ARCH:ID dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Afwina Kamal, menjelaskan bahwa tema tersebut berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini, penyelenggara ingin lebih menekankan pada konsep inklusivitas dalam dunia arsitektur.

Ia mengatakan, inklusivitas sebenarnya selalu hadir dalam ARCH:ID, namun kali ini dikemas dengan pendekatan yang berbeda. Arsitektur tidak lagi dipandang sebagai bidang yang berdiri sendiri dalam dunia konstruksi, melainkan diperluas ke berbagai disiplin lain seperti seni dan ekosistem desain secara umum.

Menurutnya, istilah “Skema” merujuk pada gagasan, sementara “Sintesa” berarti penggabungan. Dengan demikian, tema ini mencerminkan perpaduan berbagai disiplin ilmu, mulai dari konstruksi, desain, hingga karya kreatif lainnya.

“Jadi sebenarnya, skema sintesa adalah gabungan dari berbagai macam multidisipliner ilmu, yang ada di dunia kontruksi, dunia desain, dunia karya. Jadi itu adalah tema utama bagi kami,” kata Afwina dalam Press Conference Pre-Event ARCH:ID 2026 di Jakarta Barat, Sabtu (11/4).

Afwina menambahkan, semangat tema tersebut diterapkan secara menyeluruh, tidak hanya dalam pameran, tetapi juga dalam rangkaian konferensi, diskusi, serta kurasi berbagai brand yang terlibat dalam ARCH:ID 2026.

Sementara itu, Program Director ARCH:ID dari IAI, Firman S. Herwanto, menyebutkan bahwa penyelenggaraan ARCH:ID menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2023 hingga 2025, skala acara terus meningkat, baik dari sisi luas area maupun jumlah peserta. Pada 2023, acara digelar di satu hall, kemudian berkembang menjadi 1,5 hall, 2 hall, hingga 3 hall pada 2025, dengan jumlah pengunjung mencapai sekitar 28 ribu orang.

Jumlah perusahaan yang terlibat juga meningkat, dari sekitar 150 peserta pada 2023 menjadi lebih dari 200 pada 2025. Melihat tren tersebut, pihak penyelenggara akhirnya memutuskan untuk memperluas area pameran menjadi 4 hall pada 2026.

Firman mengungkapkan, hingga Februari 2026, penjualan booth telah mencapai lebih dari 90 persen. Hal ini membuat pihaknya optimistis bahwa ARCH:ID 2026 akan memberikan dampak positif bagi industri arsitektur dan konstruksi.

Ia berharap ARCH:ID dapat menjadi platform nasional yang terbuka bagi masyarakat luas yang ingin mengenal arsitektur lebih jauh. Selain itu, acara ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku industri, seperti arsitek, insinyur, asosiasi, hingga akademisi di bidang arsitektur.

“Harapannya untuk ARCH:ID sebagai acara nasional tentunya dia punya platform yang bisa diikuti oleh seluruh peminat atau rekan-rekan atau masyarakat yang punya minat terhadap arsitektur, yang ingin tahu lebih jauh tentang arsitektur itu pertama,” ucapnya.

“Yang kedua, para pelakunya sendiri, pelaku teknisnya, arsitek, engenier, dan banyak dari asosiasi juga yang terlibat disini memang semangat inklusivitas itu selalu kita coba gaungkan dalam ARCH:ID. Jadi arsitek tidak lagi berdiri sendiri. Jadi arsitek selalu kita lihat sebagai bagian dari komponen ekosistem dunia konstruksi. Jadi kita tidak pernah berdiri sendiri dan dari situ kita ingin mengajak lebih banyak pihak yang terlibat,” tambahnya.

Tak hanya itu, lanjut Firman, berbagai mitra industri, termasuk penyedia bahan bangunan, juga turut berperan dalam membangun ekosistem yang saling terhubung. Melalui ARCH:ID, seluruh pihak tersebut dapat bertemu, berkolaborasi, dan mendorong perkembangan dunia arsitektur di Indonesia.

Sebagai informasi, ARCH:ID 2026 merupakan ajang yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama CIS Exhibition. Pameran ini akan menghadirkan 725 booth dan lebih dari 180 peserta di area seluas 18.000 meter persegi.