Jakarta, GPriority.com – Mentor Kelas Pra Nikah Masjid Agung Sunda Kelapa, Ustad Reno Fathur, menyoroti maraknya kasus perceraian di tanah air yang dipicu oleh perselingkuhan, terutama di kalangan publik figur.
Berdasarkan data dari sejumlah lembaga peradilan agama, perselingkuhan tercatat sebagai salah satu faktor utama penyebab meningkatnya gugatan cerai.
Ia menegaskan, fenomena ini bukan lagi persoalan pribadi semata, melainkan sudah menjadi problem sosial yang serius.
Dia menilai hal itu menunjukkan lemahnya pemahaman sebagian pasangan terhadap makna sakral pernikahan.
Dalam ajaran Islam, lanjutnya, pernikahan bukanlah sekadar ikatan antara dua insan, melainkan sebuah perjanjian yang agung (mitsaqon ghalidza) di hadapan Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 21 yang berbunyi:
وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا
“Dan mereka (para istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”
(QS. An-Nisa: 21)
“Ayat ini menjelaskan bahwa akad nikah bukanlah hal yang ringan atau sekadar formalitas sosial semata. Pernikahan merupakan ikatan suci dan tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan penuh amanah,” kata Ustad Reno kepada Majalah GPriority, Senin (22/9).
Ustad Reno menegaskan, perselingkuhan termasuk dosa besar yang dilarang keras dalam Islam. Meski syariat menetapkan syarat berat dalam pembuktian zina, hal itu justru menunjukkan betapa Islam sangat menjaga kehormatan dan stabilitas rumah tangga.
Ia mengibaratkan perselingkuhan seperti segitiga api yang membutuhkan tiga unsur untuk menyala, diantaranya:
- Kesempatan — situasi yang memungkinkan terjadinya hubungan terlarang, seperti kurangnya pengawasan atau komunikasi dalam rumah tangga.
- Godaan Nafsu — hadirnya seseorang atau situasi yang menggoda dan memicu nafsu, misalnya godaan dari lingkungan pergaulan atau media sosial.
- Kelemahan diri — lemahnya iman, kurangnya kontrol diri, atau ketidakpuasan emosional yang membuat seseorang mudah tergoda.
“Ketiga unsur ini saling berkaitan dan jika salah satunya hilang, maka api perselingkuhan tidak akan menyala,” tutur Ustad Reno.
Lebih lanjut, Ustad Reno menekankan bahwa pengkhianatan dalam rumah tangga bukan soal cantik atau tidaknya pasangan.
“Perselingkuhan bukan soal cantik atau tidaknya pasangan, tetapi sejauh mana nilai-nilai pernikahan dipahami dan dijaga,” tegasnya.
Sebagai solusi, Ustad Reno mendorong pasangan suami istri untuk kembali memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Suami, kata dia, memiliki peran sebagai pemimpin dan pelindung, sementara istri sebagai pendamping dan penjaga kehormatan keluarga.
“Jika keduanya saling memahami peran masing-masing, membangun komunikasi yang terbuka, serta menumbuhkan ketakwaan kepada Allah, maka rumah tangga akan menjadi tempat yang aman, tenteram, dan jauh dari godaan yang merusak,” pungkas Ustad Reno.
Pewarta : Fifi Abdurahman
