Ini Bahaya Melakukan Aborsi Berulang

Jakarta, GPriority.co.id– Aborsi merupakan tindakan menggugurkan kandungan untuk mengakhiri kehamilan. Biasanya seorang wanita memutuskan untuk aborsi adalah hamil diluar nikah, faktor ekonomi keluarga, alasan keluarga, dan alasan kesehatan seperti mengancam keselamatan sang ibu.

Di Indonesia sendiri tindakan aborsi diatur dalam hukum dan undang-undang kesehatan. Demikian pula pada kasus yang belakangan ini sedang viral, yaitu kasus seorang wanita melakukan aborsi sebanyak tujuh kali di Makassar, Sulawesi Selatan. Diketahui tujuh janin ini ditemukan oleh pemilik kos-kosan yang ingin membersihkan kosan tersebut karena sudah ditinggal oleh penghuninya.

Ketujuh janin ini merupakan hasil aborsi dari tahun 2012 yang dilakukan sepasang kekasih karena malu memiliki anak hasil hubungan di luar nikah. Lantas apa bahaya yang mengintai sang ibu akibat melakukan aborsi berulangkali?

“Aborsi yang dilakukan dengan prosedur, terutama apabila dilakukan berulang-ulang, dapat menyebabkan risiko munculnya luka dan jaringan parut pada rahim sehingga menyebabkan kemungkinan hamil menjadi lebih sulit dan berisiko memicu aborsi yang selanjutnya,” kata dr. Talitha Najmillah Sabtiari pada keterangan tertulis dilaman resmi alodokter pada fitur Tanya Dokter (27/2/2020).

Merangkum dari berbagai sumber kesehatan, berikut bahaya melakukan aborsi bagi kesehatan.

1.Kerusakan Rahim dan Vagina
Kerusakan rahim dan vagina dapat terjadi bila aborsi dilakukan dengan tidak benar. Kerusakan rahim dan vagina dapat berupa lubang atau luka berat pada bagian dinding rahim, leher rahim, dan vagina.

2.Pendarahan Hebat
Pendarahan hebat jadi salah satu dampak aborsi serius namun umum dialami. Biasanya pendarahan disertai dengan demam tinggi dan keluarnya gumpalan darah berbentuk bola. Jika tidak mendapat penangan yang tepat kondisi ini dapat memicu komplikasi bahkan mengancam nyawa sang ibu.

3.Infeksi
Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh ketika melakukan aborsi dengan alat atau tempat yang tidak higienis. Infeksi ini biasanya terjadi pada rahim, saluran tuba, dan panggul. Kondisi ini ditandai dengan demam, munculnya keputihan yang berbau, dan nyeri yang hebat di area panggul. Pada kasus infeksi yang berat, sepsis (peradangan ekstrem akibat infeksi yang berpotensi mengancam nyawa) bisa terjadi setelah aborsi.

4.Kanker
Risiko peningkatan kanker ovarium dan kanker hati juga terkait dengan aborsi tunggal dan ganda. Peningkatan kanker pasca-aborsi mungkin disebabkan oleh gangguan hormonal tidak wajar sel kehamilan selama dan kerusakan leher rahim yang tidak diobati atau peningkatan stres dan dampak negatif dari stres pada sistem kekebalan tubuh.

5.Kematian
Perdarahan hebat, infeksi parah, emboli paru, anestesi yang gagal, dan kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis merupakan beberapa contoh penyebab utama dari kematian ibu yang terkait aborsi dalam seminggu setelahnya.

Itulah dampak berbahaya yang disebabkan akibat aborsi berulangkali. Perlu diperhatikan kembali dampak buruk akibat melakukan aborsi baik secara kesehatan fisik dan mental maupun secara hukum dan agama. (Gs)

Related posts