Jakarta, GPriority.co.id – Rencana militer AS (Amerika Serikat) mewajibkan pemeriksaan kadar testosteron bagi personel berusia 30 tahun ke atas memicu perdebatan di kalangan ahli kesehatan.
Kebijakan yang diumumkan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth itu bertujuan mendeteksi kekurangan hormon testosteron sejak dini demi menjaga kebugaran dan kesiapan tempur prajurit.
Namun, para pakar menilai pria yang sehat dan tidak memiliki gejala belum tentu memerlukan pemeriksaan rutin tersebut.
Berdasarkan laporan AP News, mulai 2026, seluruh personel militer AS berusia 30 tahun ke atas akan menjalani pemeriksaan testosteron setiap tahun sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.
Sementara itu, anggota militer yang berusia di bawah 30 tahun dapat mengikuti pemeriksaan secara sukarela apabila mengalami gejala yang mengarah pada kekurangan testosteron.
Menurut laporan New York Post, kebijakan ini muncul karena kadar testosteron memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Meski demikian, sejumlah organisasi medis, termasuk Endocrine Society dan American Urological Association, tidak merekomendasikan skrining testosteron secara rutin pada pria yang tidak menunjukkan gejala hipogonadisme atau defisiensi testosteron.
Ahli urologi Dr. Justin Houman menilai program tersebut berpotensi memberikan manfaat karena masih banyak pria yang mengalami testosteron rendah tanpa menyadarinya.
“Banyak pria berusia di atas 30 tahun memiliki kadar testosteron rendah tanpa menyadari gejalanya,” ujar Houman.
Ia menambahkan bahwa deteksi dini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien yang memang mengalami defisiensi hormon tersebut.
Namun, pandangan berbeda disampaikan ahli urologi Dr. Raj Patel. Ia mengingatkan bahwa pemeriksaan massal berisiko memicu diagnosis berlebihan (overdiagnosis) dan penggunaan terapi pengganti testosteron (Testosterone Replacement Therapy/TRT) yang tidak tepat.
“Tes testosteron seharusnya dilakukan berdasarkan gejala dan evaluasi klinis, bukan hanya sebagai pemeriksaan rutin pada semua pria,” tegas Patel.
Lebih lanjut ia juga mengingatkan bahwa terapi testosteron dapat menimbulkan efek samping, seperti menurunkan kesuburan, meningkatkan jumlah sel darah merah secara berlebihan, hingga memengaruhi kesehatan prostat pada sebagian pasien.
Secara medis, kadar testosteron yang rendah dapat ditandai dengan berbagai keluhan, seperti mudah lelah, gairah seksual menurun, disfungsi ereksi, berkurangnya massa otot, meningkatnya lemak tubuh, hingga perubahan suasana hati. Karena gejala tersebut juga dapat disebabkan oleh penyakit lain, dokter biasanya akan memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium yang diulang serta evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan terapi.
Para ahli sepakat bahwa pemeriksaan testosteron memiliki manfaat bagi pria yang mengalami gejala atau memiliki kondisi medis tertentu.
Namun, untuk pria yang sehat tanpa keluhan, keputusan menjalani tes sebaiknya tetap didasarkan pada konsultasi dengan dokter, sehingga manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan secara individual.
