Kasus Perceraian di Aceh Tamiang Sepanjang Tahun 2020 Meningkat, Ternyata Ini Penyebabnya

Aceh Tamiang, Gpriority – Mahkamah Syariah Kualasimpang mencatat, jumlah kasus perceraian yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh sepanjang tahun 2020 mencapai 600 perkara.

Hal itu tersebut disampaikan Ketua Mahkamah Syariah Kualasimpang, Dangas Siregar dalam keterangan pers di gedung setempat, 4 Maret 2021 kemarin.

Menurutnya, jumlah kasus perceraian sepanjang tahun 2020 itu tergolong meningkat dari tahun sebelumnya, yakni tahun 2019.

Kendati disebutkan kasus perceraian sedikit meningkat di tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Dangas tidak menyebutkan berapa jumlah peningkatannya atau persentasenya secara rinci.

“Peningkatannya sebenarnya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan yang terjadi di tahun 2019, hanya beberapa perkara saja,” kata Ketua Mahkamah Syariah Kualasimpang, Dangas Siregar kepada wartawan, Jumat, (5/3/2021).

Meskipun tidak disebut secara detil jumlah perbandingan kasus perceraian antara tahun sebelumnya dengan tahun 2020, Namun, Ketua Mahkamah Syariah Kualasimpang menyebutkan jumlah perkara tertinggi yang diterima pihaknya sepanjang 2020 terjadi di bulan Juli dan Agustus.

“Bulan Juli sebanyak 106 kasus dan Agustus sebanyak 102 kasus,” katanya.

Jadi, kata dia, wabah pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 tidak mempengaruhi terjadinya peningkatan kasus perceraian.

“Sebab jika dilihat berdasarkan data, puncak pandemi terjadi di bulan Maret, April, dan Mei. Namun di bulan itu kasusnya hanya sedikit,” sebutnya.

Selain itu, pada kesempatan tersebut, Dangas juga mengungkapkan, terdapat beberapa faktor pemicu terjadinya perceraian pasangan rumah tangga di Aceh Tamiang.

Beberapa penyebab perceraian tersebut adalah, hubungan rumah tangga yang tidak harmonis sehingga menyebabkan pertengkaran kedua pasangan dalam waktu yang lama, bahkan ada yang secara terus menerus.

“Dan akhirnya pasangan memilih pisah ranjang,” katanya.

Kemudian, pasangan pria yang memiliki hobi atau kebiasaan yang buruk, seperti judi dan narkoba yang akhirnya menjadikan hubungan rumah tangga menjadi hancur. “Pada kasus ini kebanyakan pihak wanita yang menggugat,” kata Dangas.

Selanjutnya, penyebab pemicu perceraian lain yang umumnya sering terjadi adalah, faktor ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dan untuk kasus perceraian karena faktor ekonomi, Dangas menyebut, tidak hanya pihak pasangan wanita saja yang mengajukan gugatan, namun ada juga dari pihak pasangan pria.

“Sedangkan KDRT, semua yang melakukan gugatan adalah pihak pasangan wanita,” katanya.

Dengan meningkatnya angka kasus perceraian yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang tersebut, Dangas menghimbau kepada masyarakat, khususnya para calon pasangan yang akan mengikat hubungan rumah tangga, hendaknya mempersiapkan diri terlebih dahulu secara matang, baik secara lahir maupun bathin.

“Dasar agama yang kuat juga menjadi salah satu faktor terpenting yang harus di miliki kedua calon pasangan, selain persiapan materi untuk mengikat sebuah hubungan yang sakral,” katanya.

Untuk itu, Dangas berharap kepada masyarakat, khususnya para pasangan yang akan memutuskan melakukan perceraian, terlebih dahulu hendaknya mempertimbangkan kembali secara matang, sebelum memutuskan itu. Karena, bagaimana pun juga perceraian bukan lah hal yang baik, kendati perbuatan itu tidak dilarang secara hukum dan agama.

“Sebab, di balik perceraian yang terjadi pasti ada yang akan menjadi korban, yakni anak mereka,” sebutnya.

Selain itu, cara lain yang mungkin dapat dilakukan guna menyelamatkan hubungan rumah tangga adalah dengan melibatkan keluarga masing-masing pasangan, atau perangkat desa

Ada baiknya, coba diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu seperti melibatkan keluarga dari kedua belah pihak atau perangkat desa dan melakukan mediasi.

“Dengan cara itu mungkin nantinya bisa mendapatkan solusi lain yang lebih baik, selain perceraian,” ujarnya.(Zul)

Related posts