Kebijakan Larangan Plastik Sekali Pakai Dilihat Dari Berbagai Persfektif

Yok Yok Ayok Daur Ulang merupakan sebuah program inisiasi daur ulang keberlanjutan yang dibuat oleh PT Trinseo Materials Indonesia dan juga didukung oleh Kemasan Group pada tahun 2019 silam. Tujuan dibuatnya program ini untuk memberikan edukasi mengenai kebijakan larangan penggunaan plastik termasuk styrofoam dari beberapa perspektif.

Program sendiri dinilai Kemasan Group cukup berhasil memberikan edukasi kepada masyarakat. Untuk itulah pada Selasa, 20 September 2020, Kemasan Group dan PT.Trinseo Material Indonesia kembali menggelarnya meskipun harus dilakukan melalui webinar dengan menggunakan aplikasi zoom dikarenakan pelarangan berkumpul di dalam sebuah acara dari Pemprov DKI Jakarta akibat Covid-19 yang masih meninggi . Adapun judul yang diangkat adalah, ‘Apakah single-use plastic ban merupakan solusi dari masalah lingkungan di Indonesia?’. Menurut Wahyudi Sulistya, Direktur Kemasan Group saat membuka acara, judul tersebut diangkat dikarenakan pada Juli 2020, Pemprov DKI Jakarta melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk berbelanja.

“ Jujur saja, saya tidak setuju dengan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk berbelanja, karena berakibat pada PHK-nya ratusan tenaga kerja industri plastik yang berlokasi di Jakarta. PHK juga bisa terjadi pada 170 ribu orang lainnya yang bekerja pada industri plastik di Indonesia jika mentalitas ‘pelarangan’ seperti ini terus dibudayakan oleh daerah lainnya”, ujar Wahyudi Sulistya.

Selain itu, belum adanya pengganti plastik dari segi emisi karbon, fungsi, durabilitas, dan harga menjadi alasan lainnya kenapa saya tidak setuju dengan adanya pelarangan ini. “ Perlu Anda ketahui tas bungkusan pengganti yang saat ini menjadi opsi digunakan untuk bungkusan, seperti spunbound ataupun paper bag pun memiliki lapisan plastik Polypropylene atau PP yang terletak pada water-proofnya. Bahkan, masker surgical seperti 3 Ply saja memiliki lapisan plastik juga, bisa dibayangkan, tidak mungkin kita melarang penggunaan single-use plastic. Karena lapisan plastik sangat kita butuhkan sehari-hari, apalagi di tengah pandemi. Jika perhatian pemerintah dan masyarakat ada pada sampah single-use plastic, harusnya sampah masker juga menjadi perhatian, yang sekarang sudah menumpuk.Artinya, memang solusinya tidak bisa kita larang plastiknya, melainkan waste management”, ucap Wahyudi.

Pendapat senada juga diutarakan Prispolly Lengkong, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Menurut Prispolly, setidaknya sudah ada beberapa dari rekan profesi kami di Jakarta yang terkena dampak pelarangan tersebut. Jumlah ini akan bertambah menjadi 3 juta pemulung belum termasuk keluarganya yang akan terkena dampaknya jika kebijakan larangan single-use plastic jadi diterapkan di seluruh Indonesia. “ Sampah plastik memiliki nilai ekonomi yang tinggi terutama bagi profesi kami. Karena, sampah tersebut kami pilah dan bisa kami jual kembali dan didaur ulang kembali menjadi benda-benda yang dapat bermanfaat, termasuk menjadi plastik lagi”, ujarnya.

Tim Ahli dari Indonesian Life Cycle Assessment Network Doktor Jessica Hanafi pun mendukung pernyataan dari Wahyudi dan Prispolly Lengkong. Dalam paparannya , Jessica mengatakan, harus bisa menilai terlebih dahulu barang tersebut, apakah eco-friendly atau tidak dari sisi holistik. “Suatu produk tidak hanya bisa dilihat atau dipotret hanya pada satu tahap dalam hidupnya. Jika dilihat hanya pada satu atau dua tahapan dari masa hidup suatu produk, akan terjadi pergeseran dampak lingkungan. Penilaian potensi dampak lingkungan suatu produk dapat dilakukan melalui metode Life Cycle Assessment, yang standarnya sudah diadopsi menjadi SNI ISO 14040 dan 14044 pada tahun 2016 dan 2017. Berdasarkan beberapa studi LCA yang dikaji oleh UN Environment dalam publikasinya mengenai ‘Single-Use Plastic Bags and their alternatives: Recommendations from Life Cycle Assessment’, banyak parameter yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan terkait penggunaan atau pelarangan plastik karena banyak implikasi yang dapat terjadi yang juga mengakibatkan dampak lingkungan yang lebih berat,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Jessica “Reusable bags yang dirancang untuk digunakan berkali-kali mempunyai dampak lingkungan yang lebih rendah daripada single-use plastic Polyethylene (PE) bag. Namun tergantung dari jenisnya, reusable bag harus digunakan sampai puluhan kali bahkan lebih dari 150 kali untuk tas dari bahan katun. Tergantung dari perilaku konsumen, jumlah ini bisa saja tidak tercapai. Sementara itu untuk material biodegradable dalam praktek manajemen limbahnya harus dikondisikan sedemikian rupa dalam penanganannya agar dapat terurai dalam sistem komposting.“

Selain itu, menurut Jessica, solusi dari masalah sampah lingkungan bukanlah pelarangan, melainkan waste management. “ Sudah seharusnya terdapat tata kelola sampah yang baik dari hulu ke hilir, dan ini bisa dicapai melalui kerjasama yang sinergis antara masyarakat, pemerintah dan swasta, salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan IPI. Dijelaskan Prispolly program waste management IPI sudah berkontribusi dalam pengurangan sampah di TPST Bantar Gebang DKI Jakarta, dari 3,800 ton per hari menjadi 2,063 ton”, tambahnya. Jika IPI bisa berkontribusi untuk pengelolaan sampah TPST, harusnya, pemerintah, masyarakat dan swasta juga bisa membuat program yang lebih baik untuk penanganan masalah sampah”, ujarnya.

Praktisi Medis, dr, Kardiana Dewi,Sp.KK menilai pelarangan kantong plastik sekali pakai untuk berbelanja justru bisa semakin menambah jumlah kasus Covid-19 di Jakarta dan juga Indonesia, mengingat virus ini dapat bertahan lama di permukaan benda. “spunbound ataupun paper bag tidak bisa dibuang, karena bisa dipakai berkali-kali. Jadi otomatis ragam virus termasuk Corona ikut menempel ketika berbelanja di pasar, supermarket,toko buku atau mall. Alhasil jika ditaruh di dalam rumah dalam jangka waktu yang lama, otomatis virus tersebut berpindah ke dalam rumah. Hal ini berbeda jika kita menggunakan plastik sekali pakai bisa dibuang. Karena setelah dipakai langsung dibuang, maka virus tidak ikut menempel ke benda-benda yang ada di dalam rumah,” jelas dr.Kardiana.

Dr.kardiana pun meminta kepada masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dimanapun mereka berada. Pasalnya hingga saat ini penyebaran Covid-19 semakin merajalela dan jumlahnya bertambah banyak.” Jadi tetap menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Jika tidak ada keperluan penting, lebih baik tinggal di rumah saja, lebih aman,” tutup dr.Kardiana.(Hs.Foto.dok.Vector)

Related posts