Jakarta, GPriority.co.id – Dalam beberapa tahun ini, tren olahraga HYROX sedang hype di kalangan pecinta kebugaran.
Sebelumnya, GPriority berkesempatan mewawancarai salah satu pegiat HYROX di Indonesia, Gab Sheena.
Ia menjelaskan, HYROX merupakan sebuah kompetisi yang menggabungkan lari sejauh 8 kilometer degnan 8 stasiun latihan fisik. Setiap kilometer lari diselingi satu stasiun, mulai dari skier, sled push, sled pull, burpee broad jump, rower, farmers carry, sandbag lunges, serta wall ball.
Wanita yang akrab disapa Gabby itu juga menegaskan bahwa lari merupakan komponen paling krusial dalam HYROX, dimana sekitar 60-70 persen didominasi oleh lari. Selain itu, latihan kekuatan juga penting untuk menghadapi setiap stasiun.
Selain itu, HYROX sendiri bukanlah kompetisi yang bisa dihadapi secara dadakan. Untuk pemula tanpa latar belakang olahraga, Gabby menyarankan persiapan minimal enam bulan, dan tiga hingga empat bulan bagi yang sudah biasa berlatih di gym.
Namun laporan terbaru dari KlikDokter menyebut jika para ahli kesehatan telah mengingatkan bahwa kombinasi latihan intensitas tinggi dalam HYROX dapat membebani jantung secara signifikan, terutama bagi pemula.
Dengan menggabungkan lari dan latihan kekuatan dalam satu rangkaian kompetisi, format ini menuntut daya tahan kardiorespirasi dan kekuatan otot secara bersamaan, sehingga tubuh bekerja pada intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.
Dokter mengingatkan bahwa risiko utama muncul ketika seseorang mengikuti HYROX tanpa persiapan fisik yang memadai. Dalam artikel KlikDokter dijelaskan bahwa aktivitas intens ini bisa memicu gangguan pada jantung jika tubuh belum terbiasa dengan beban latihan tinggi.
Hal senada juga disampaikan oleh dokter spesialis olahraga dr. Andhika Raspati. Ia menegaskan bahwa HYROX bukan sekadar olahraga ringan.
“Harus diingat bahwa Hyrox itu olahraga yang mengombinasikan antara ketahanan kardio dengan ketahanan otot,” tekannya dikutip dari detikHealth.
Ia juga memperingatkan bahaya bagi orang yang langsung ikut tanpa latihan dasar.
“Kalau kardionya nggak siap atau ternyata punya gangguan jantung yang tidak disadari, lalu dipaksa ikut Hyrox, jantung bisa kumat (kolaps) di lapangan,” tambah dr. Andhika.
Dalam konteks medis, kondisi ini bisa terjadi karena jantung dipaksa bekerja di luar kapasitas normal. Ketika tubuh belum memiliki fondasi kebugaran yang cukup, lonjakan detak jantung dan tekanan darah saat latihan intens dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Perlu ditekankan bahwa olahraga intens seperti HYROX memerlukan persiapan bertahap, termasuk latihan kardio, kekuatan otot, serta pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti kompetisi. Tanpa itu, risiko cedera hingga gangguan serius pada jantung bisa meningkat.
Selain faktor fisik, aspek teknis juga berperan penting. Banyak peserta pemula yang belum memahami teknik latihan dengan benar, sehingga memperbesar kemungkinan kelelahan ekstrem dan overtraining. Kondisi ini dapat memperburuk tekanan pada sistem jantung dan pernapasan.
Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tren. Persiapan yang tepat menjadi kunci utama untuk menghindari risiko kesehatan. Latihan sebaiknya dimulai dari intensitas rendah, kemudian meningkat secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
Selain itu, penting untuk melakukan skrining kesehatan, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit jantung atau jarang berolahraga. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi potensi risiko sebelum mengikuti aktivitas berat seperti HYROX.
Adaptasi tubuh terhadap latihan juga perlu diperhatikan. Tubuh membutuhkan waktu untuk meningkatkan kapasitas aerobik dan kekuatan otot. Tanpa proses ini, risiko kelelahan berlebihan dan gangguan jantung akan semakin besar.
Meski memiliki risiko, HYROX tetap menawarkan manfaat jika dilakukan dengan benar. Olahraga ini mampu meningkatkan kebugaran secara menyeluruh, mulai dari kekuatan otot hingga daya tahan jantung. Namun, manfaat tersebut hanya bisa diperoleh jika dilakukan dengan persiapan yang matang dan pengawasan yang tepat.
