Puasa Asyura, Begini Sejarah Peristiwa dan Keutamaannya

Penulis: Aflaha Rizal Bahtiar | Editor : Lina F | Foto: Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Islam dikenal memiliki banyak bulan yang istimewa bagi para umatnya. Tentu bulan istimewa sangat berkaitan erat dengan memperbaiki diri serta berlomba mendapatkan pahala. Salah satunya bulan Muharram.

Bulan Muharram (asyhurul hurum) merupakan hari yang sangat mulia. Bagaimana bulan tersebut dikatakan bulan mulia? Berikut penjelasannya yang dikutip dari Nu Online.

Definisi Asyura serta sejarahnya
Ada dua pendapat dalam penamaan bulan Asyura. Pendapat pertama diambil dari kata Asyirah (kesepuluh) untuk pleonatis dan diagungkan. Sementara untuk pendapat kedua, yakni disebut hari kesepuluh dari bulan Muharram.
Dalam sejarahnya, pada saat hijrah dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa di hari Aasyura. Karena itu, beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa Asyura.

Hal itu diungkap oleh sahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anh, yang berkata: “Tatkala Nabi Muhammad datang ke kota Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa di hari Asyura, lantas beliau bersabda kepada mereka, ‘Hari apa yang kalian sedang berpuasa ini?’.

Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang agung. Allah menyelamatkan Musa dari kaumnya pada hari ini dan menenggelamkan Fir’aun beserta pasukannya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur dan kami turut berpuasa’.

Oleh sebab itu, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang berkehendak (ingin berpuasa), maka silakan berpuasa. Dan barang siapa yang berkehendak (tidak ingin berpuasa), maka tidak berpuasa.”
Asal Hukum Puasa Asyura
Para ulama berpendapat, berpuasa di bulan Asyura hukumnya adalah wajib sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan pada tahun kedua hijriah. Setelah diwajibkan puasa Ramadhan, puasa Asyura menjadi puasa sunah ‘muakad’.
Sementara pendapat lain mengungkapkan, puasa ini sejak dulu hukumnya adalah ‘muakad’, tidak wajib, hingga diwajibkan puasa Ramadhan, dan hukumnya kembali menjadi sunah biasa. Hanya saja, pendapat ini disebut lemah yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Keutamaan berpuasa di bulan Asyura
Bulan Asyura dikatakan termasuk puasa yang sangat dianjurkan oleh agama Islam. Rasulullah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharram” (HR Muslim).

Keutamaan puasa ini adalah dapat mengapuskan dosa setahun yang lalu. Hal ini diungkap oleh sahabat Abu Qatadah, bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia mengampuni dosa setahun yang lalu” (HR at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, saat Nabi Muhammaad ditanya perihal Asyura, ia menjawab, “Puasa tersebut dapat mengapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).