Saling Mencintai Karena Allah, 7 Golongan Ini Dijamin Masuk Surga

Jakarta, GPriority.com – Ketika datang hari kiamat dan orang-orang dikumpulkan di padang mahsyar. Mereka akan merasakan kesulitan yang luar biasa hingga tidak peduli lagi tentang surga atau neraka. Melainkan hanya memohon agar segera tiba giliran mereka untuk dihisab.
Di tengah situasi tersebut, terdapat 7 golongan yang justru melewatinya dengan tenang karena Allah telah menaunginya dari segala kesusahan dan menjaminnya sebagai golongan orang yang akan masuk ke surga.


Lantas manusia mana saja yang termasuk dalam 7 golongan yang dijanjikan Allah SWT untuk masuk surga?
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Ada tujuh golongan manusia yang nanti akan dinaungi Allah dalam naungan ‘arasy-Nya pada hari yang tiada naungan selain naungan Allah, yaitu :


Seorang pemuda yang dibesarkan dalam ibadah kepada Allah, pemimpin yang adil dan jujur, seorang laki-laki yang diajak berselingkuh oleh seorang perempuan cantik dan berpangkat, lalu dia mengatakan “aku takut kepada Allah rabbal ‘alamin”, seseorang yang merahasiakan sedekah yang diberikan oleh tangan kanannya terhadap tangan kirinya, seseorang yang hatinya selalu tertambat di masjid-masjid Allah, dan dua orang yang masing-masing bermaksud menjalin persaudaraan karena Allah, lalu dalam keadaan demikian itu mereka berpisah. (HR Thahawi).
Artinya: Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Saw, sesungguhnya beliau bersabda : ”Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tiada naungan lain selain naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil dan jujur, seorang lelaki bertemu seorang perempuan cantik dan berpangkat lalu perempuan itu menawarkan dirinya kepada laki-laki tersebut dan laki-laki tersebut mengatakan:“Sesungguhnya aku takut kepada Allah rabbul alamin”,


seseorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid, seseorang yang mempelajari Al-Qur’an sejak muda dan terus dibacanya sampai tua, seseorang yang merahasiakan sedekahnya sehingga apa yang diberikan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya, seseorang yang ingat kepada Alah (dzikrullah) di tengah-tengah orang banyak sambil melelehkan air matanya karena takut kepada Allah, seseorang bertemu orang lain lalu dia mengatakan : Aku mencintaimu karena Allah, yang disambut oleh temannya itu : Aku pun mencintaimu karena Allah”. (HR Baihaqi, dalam Syu’abul Iman).
Seorang pemuda yang dibesarkan dalam ibadah kepada Allah


Usia remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini seorang anak umumnya senang memberontak dan suka hal-hal baru. Sehingga pada beberapa kasus, seorang anak yang saat ia masih kecil sangat rajin beribadah namun ketika memasuki remaja ibadahnya justru berkurang.
Menemukan pemuda yang rajin beribadah, mengaji, dan melakukan amal shaleh cukup sulit. Padahal remaja adalah suatu fase yang menjadi jembatan antara perilaku anak-anak ke perilaku sebagai orang dewasa yang memiliki tanggung jawab besar, salah satunya keluarga. Maka dari itu, pendidikan Islam pada masa ini amat penting untuk ditekuni dan dibiasakan.


Pemimpin yang adil dan ujur
Pemimpin yang mampu berbuat adil dan jujur berdasarkan hukum Allah SWT dalam setiap kebijakannya tergolong orang-orang yang sangat istimewa. Sebab, pemimpin pada umumnya dianugerahkan oleh Allah dengan berbagai kelebihan.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 123, Allah SWT telah memperingatkan para pemimpin agar tidak berlaku makar karena akan menyengsarakan dirinya sendiri. Termasuk dalam perbuatan makar di antaranya, memperkaya diri sendiri, mengabaikan kepentingan rakyat, menyelewengkan keuangan negara dan jabatan.


Seorang laki-laki yang menolak diajak berselingkuh oleh seorang wanita
Seorang laki-laki yang mampu melakukan hal tersebut termasuk golongan yang diistimewakan oleh Allah SWT. Berselingkuh merupakan salah satu bentuk nafsu. Maka dari itu, orang yang mampu menahan nafsunya karena takut kepada Allah SWT amat besar pahalanya.
Sebagaimana dalam firman Allah dalam Al Qur’an Surat Yusuf ayat 23-24 yang mengisahkan tentang Nabi Yusuf yang digoda oleh seorang perempuan cantik dan ia hampir saja terbujuk dengan rayuan tersebut.
Kemudian Nabi Yusuf menolaknya karena mengingat hukuman Allah SWT. Karena tindakan tersebut, Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Yusuf termasuk sebagai hamba-hamba yang terpilih oleh Allah.


Orang yang merahasiakan sedekah yang telah dikeluarkan
Yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang-orang yang tidak ria atau pamer terhadap sedekah yang ia keluarkan. Melainkan dirinya ikhlas dalam bersedekah. Namun, demikian Allah juga tidak melarang orang untuk bersedekah secara terang-terangan selama dilakukan dengan ikhlas dan tidak untuk pamer.


Orang yang hatinya selalu tertambat di masjid-masjid
Masjid adalah rumah Allah SWT. Tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Karena itu, Allah SWT sangat mencintai masjid dan orang-orang yang konsisten pergi ke masjid untuk beribadah.
Allah SWT, berfirman yang artinya:
Sesungguhnya mesjid didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalam mesjid itu terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (Q.S At-Taubah: 108).


Dua orang yang bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah
Termasuk dalam perbuatan ini misalnya dua sahabat yang saling mengajak pada kebaikan, mengingatkan untuk sholat, mengaji bersama, mengingatkan untuk sholat tahajud, dan perbuatan-perbuatan baik lainnya.


Begitupun ketika terjadi perpisahan di antara keduanya. Perpisahan tersebut terjadi karena keduanya membela Allah SWT.
Namun dalam hadits kedua, golongan ke-6 dan ke-7 ini dibedakan menjadi:


Seseorang yang berdzikir di tengah-tengah orang banyak sambil melelehkan air matanya karena takut kepada Allah dan seseorang yang saling mencintai karena Allah SWT.
Dalam Islam seseorang tidak hanya saling mencintai tapi mereka harus saling mencintai karena Allah. Sehingga dalam kehidupan yang dijalani bersama selalu berlandaskan cinta dan kecintaan kepada Allah SWT.
Cinta yang berlandaskan kecintaan pada Allah adalah cinta yang bernilai ibadah. Keduanya berusaha untuk saling menjaga kesucian hati pemiliknya sehingga mengantarkannya ke surga. Menikah merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus level tertinggi dari dua orang yang saling mencintai. Oleh karena itu, pernikahan harus diniatkan sebagai suatu ibadah karena Allah. (Vn)

Related posts