Jakarta, GPriority.co.id – Lelucon khas ayah atau dad jokes sering dianggap garing, receh, bahkan membuat pendengarnya menggelengkan kepala. Namun di balik kesan konyol tersebut, para ahli mengungkap bahwa candaan sederhana ini ternyata dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak dan kesejahteraan mental.
Temuan tersebut diungkap dalam kajian yang dikutip dari laporan New York Post pada Selasa (23/6). Peneliti psikologi, Paul J. Silvia dan Meriel I. Burnett, menganalisis ribuan dad jokes dan menemukan bahwa jenis humor ini umumnya bertumpu pada permainan kata (pun) yang sederhana dan mudah dipahami lintas generasi.
Menurut mereka, berbeda dengan komedi yang membutuhkan konteks rumit, dad jokes biasanya hanya mengandalkan makna ganda dari sebuah kata atau kalimat. Kesederhanaan inilah yang membuat humor tersebut mudah dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.
“Struktur yang dapat diprediksi membuat dad jokes mudah diakses dan menciptakan peluang untuk berbagi humor di berbagai generasi,” tulis para peneliti.
Para ahli menjelaskan bahwa tertawa bukan sekadar respons emosional, tetapi juga memicu perubahan biologis di dalam tubuh. Saat seseorang tertawa, kadar hormon stres seperti kortisol dan epinefrin menurun, sementara hormon yang berkaitan dengan perasaan bahagia seperti dopamin, serotonin, dan endorfin meningkat.
Bahkan, sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan pada 2023 menemukan bahwa satu sesi tertawa dapat menurunkan kadar kortisol hingga lebih dari 36 persen. Penurunan stres tersebut membantu otak, terutama bagian korteks prefrontal, bekerja lebih efektif dalam memproses informasi dan menyelesaikan masalah.
Sementara itu, ahli perkembangan anak dari Middlesex University London, Jacqueline Harding, menilai humor dan tawa memiliki peran penting dalam perkembangan otak anak.
“Ketika kita melihat anak-anak tertawa, kita sedang menyaksikan kecemerlangan otak yang sedang bekerja: belajar, terhubung, dan berkembang,” ujar Harding.
Dalam bukunya “The Brain That Loves to Laugh”, Harding juga menegaskan bahwa kegembiraan membantu anak-anak menghadapi tekanan hidup dan membangun mental yang lebih tangguh.
“Harapan dan humor tampaknya bukan sekadar bumbu kehidupan, tetapi fondasi bagi perkembangan yang sehat,” katanya.
Tak hanya berdampak pada individu, tawa bersama juga dapat mempererat hubungan keluarga. Para peneliti menyebut aktivitas tertawa bersama meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang berperan dalam membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak. Selain itu, humor membantu proses co-regulation, yaitu kemampuan mengelola stres melalui pengalaman positif yang dibagikan bersama.
Dengan kata lain, candaan receh yang sering membuat anak-anak mengeluh ternyata memiliki manfaat lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.
Selain menghibur, dad jokes dapat membantu mengurangi stres, merangsang kemampuan berpikir kreatif, dan memperkuat hubungan keluarga.
