Amerika Serikat, GPriority.co.id – Presiden AS Donald Trump selalu berhasil membuat publik menyoroti dirinya. Terbaru, ia mengunggah foto AI dirinya menjadi Yesus Kristus yang sedang menyembuhkan orang sakit.
Foto ini muncul di tengah kontroversi dirinya yang sedang berkonflik dengan Paus Leo XIV. Sontak, unggahan tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan mendapat beragam respons dari tokoh agama, pengamat politik, hingga masyarakat umum.
Foto yang diunggah melalui platform media sosial miliknya itu memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih dengan latar cahaya terang, menyerupai ikonografi Yesus dalam tradisi Kristen.
Dalam foto tersebut, ia tampak meletakkan tangan di kepala seorang pria yang digambarkan sedang sakit, seolah melakukan mukjizat penyembuhan. Tidak butuh waktu lama, unggahan ini viral dan menjadi trending topic di berbagai platform digital.
Laporan Reuters dan BBC menyebut jika unggahan tersebut memicu kritik keras dari kalangan pemuka agama. Mereka menilai tindakan tersebut tidak pantas dan berpotensi menyinggung keyakinan umat Kristen di seluruh dunia.
“Mengasosiasikan diri dengan sosok Yesus dalam konteks religius seperti ini bukan hanya tidak sensitif, tetapi juga bisa dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan simbol keagamaan,” ujar seorang teolog dari Amerika Serikat, Dr. Michael Reynolds, dalam sebuah wawancara.
Menurut laporan dari BBC, para ahli teknologi menilai bahwa gambar semacam ini dapat dengan mudah disalahartikan jika tidak disertai konteks yang jelas.
“Ketika figur publik menggunakan visual yang sangat simbolis, publik bisa terpecah antara yang menganggap itu humor, propaganda, atau bahkan keyakinan pribadi,” ujar seorang pakar media digital dalam laporan BBC.
Setelah memicu kritik dari berbagai pihak, Trump pun menghapus unggahan foto tersebut.
“Saya pikir itu saya sebagai seorang dokter dan berkaitan dengan Palang Merah. Ada petugas Palang Merah di sana yang kami dukung,” katanya singkat.
Merasa tak terima mendapat kritik, Trump menyebut jika hanya media penyebar berita palsu saja yang memelintir hal semacam ini.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan jika unggahan tersebut hanya sebuah candaan.
“Menurut saya presiden mengunggah sebuah candaan dan tentu saja ia menghapusnya karena menyadari banyak orang tak memahami leluconnya,” kata Vance dikutip dari Fox News melalui ANTARA.
Lebih lanjut, Vance menyebut jika Trump kerap kali berkreasi di media sosial dan berkomunikasi langsung dengan publik.
“Saya justru melihat itu sebagai hal yang baik dari presiden, yaitu ia tidak disaring. Ia tidak menyatakan semua hal melalui ahli komunikasi. Ia benar-benar menjangkau masyarakat secara langsung,” ujar Vance.
