Kata Badan Geologi Soal Fenomena Sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar

Penampakan fenomena sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar/Foto : Tangkapan Layar TikTok (@rendionprtm) Penampakan fenomena sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar/Foto : Tangkapan Layar TikTok (@rendionprtm)

Sumatera Barat, GPriority.co.id – Fenomena sinkhole terjadi di sawah garapan masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), sejak Minggu (4/1) lalu. Hingga Jumat (9/1), ratusan warga berdatangan melihat langsung lubang akibat tanah ambles tersebut.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun bergerak cepat untuk melakukan observasi langsung sinkhole di area persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

Mereka melakukan kajian awal untuk memastikan penyebab dari amblasnya tanah serta memetakan potensi risiko lanjutan bagi masyarakat disekitar sinkhole. Dilansir dari laman resminya, tim kajian dipimpin oleh Kepala Tim Mitigasi Gerakan Tanah Badan Geologi, Taufik Wira Buana, yang diminta turun langsung oleh pemerintah daerah setempat.

“Hasil pengambilan data ini akan kami bawa ke Bandung untuk dianalisis secara cepat. Kajian ini belum menyeluruh, namun bertujuan untuk menjawab fenomena yang terjadi,” jelas Taufik.

Tim kajian menggunakan pendekatan rapid assesment untuk memperoleh gambaran awal dari kondisi tersebut. Pengambilan data difokuskan pada kondisi tanah, air, serta faktor geologi yang berpotensi memicu runtuhan. Kajian ini dinilai penting guna menepis spekulasi dan memberi dasar ilmiah untuk penanganan selanjutnya.

Berdasarkan pemeriksaan lapangan yang dilakukan sejak Rabu (8/1) hingga Kamis (9/1), Badan Geologi menyebut sinkhole tersebut sebagai tipe cover-collapse, atau runtuhan yang terjadi tiba-tiba pada lapisan tanah penutup yang berada di atas rongga batuan gamping.

Rongga bawah tanah tersebut terbentuk karena adanya proses pelarutan batugamping oleh air hujan dan air tanah yang bersifat asam. Saat rongga melewati ambang kestabilan, bagian atapnya pun runtuh hingga tanah di atasnya amblas secara vertikal.

Adanya genangan air di dasar sinkhole tersebut menguatkan indikasi adanya hubungan langsung dengan sistem aliran air di bawah tanah. Sementara itu, ditemukan lapisan tanah penyusun di lokasi berupa lanau pasiran serta pasir lanauan berwarna kuning kecokelatan dengan tingkat plastisitas tinggi.

Di bagian bawahnya, diperkirakan terdapat batugamping Formasi Kuantan yang telah mengalami proses karstifikasi intensif.

Salah satu rekomendasi penting yang disarankan Badan Geologi, sinkhole tidak disarankan ditimbun secara langsung tanpa rekayasa teknis khusus karena dapat berpotensi memperbesar risiko runtuhan lanjutan.

Dari sisi pemerintah daerah juga diminta segera menyusun zonasi wilayah rawan sinkhole, dasar untuk penataan ruang serta pengendalian pemanfaatan lahan.

Untuk mendeteksi keberadaan rongga bawah tanah secara lebih mendalam, kajian lanjutan selanjutnya yang direkomendasikan Badan Geologi meliputi pemetaan geologi teknik, hidrogeologi, serta pendugaan geofisika seperti georadar, geolistrik, atau pun metode seismik.