Hati-Hati! Inilah 4 Pemicu Saraf Kejepit yang Sering Disepelekan

Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB, saat diwawancarai tim GPriority di RS Jakarta, Rabu (24/9)/Foto : Dok. GPriority (Juwita Sari) Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB, saat diwawancarai tim GPriority di RS Jakarta, Rabu (24/9)/Foto : Dok. GPriority (Juwita Sari)

Jakarta, GPriority.co.id – Saraf kejepit merupakan penyakit dengan gejala nyeri, kebas, dan kesemutan. Meski bisa terjadi di bagian tubuh manapun, umumnya lebih sering terjadi pada bagian leher, bahu, lengan, siku, pergelangan tangan, hingga punggung atas maupun bawah.

“Saraf kejepit itu kan istilah awam, tapi di medis kita tidak menggunakan istilah itu. Dalam dunia medis, saraf kejepit itu ada dua, yang pertama HNP atau Hernia Nukleus Pulposus atau kalau dalam bahasa Inggris orang menyebutnya slipped disc. Artinya, ada bantalan tulang yang melejit di tulang belakang kita dan menekan saraf,” jelas Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB, saat diwawancarai tim GPriority di RS Jakarta, Rabu (24/9).

“Ada lagi yang disebut dengan stenosis. Saraf kan berada dalam satu rongga tulang, namun dengan bertambahnya usia serta karena faktor lainnya, rongga tersebut pun menyempit sehingga sarafnya otomatis ikut terjepit,” tambah Dr. Wawan.

Meski dengan bertambah usia risiko saraf kejepit semakin besar, namun Dr. Wawan menyebut jika setiap orang memang mempunyai bakat untuk mengidap saraf kejepit. Terlebih jika dipicu oleh beberapa kebiasaan yang terlihat sepele.

Pemicu pertama ialah obesitas.
“Jadi di atas pinggang itu mungkin sekitar 50 persen dari berat badan kita. Misalnya ada orang yang beratnya 80 kg, otomatis kan sekitar 40-an kg nekan ke arah pinggangnya,” ungkapnya.

Dr. Wawan menambahkan, “Tulang belakang itu otomatis kalau kena tekan terus apalagi beban tekanannya makin besar karena berat badan semakin bertambah, terpicu untuk rusak.”

Selanjutnya, pemicu kedua ialah angkat barang yang berat.
Menurut Dr. Wawan, mengangkat barang yang berat membuat tekanan ke bawah menjadi bertambah. Hal ini dapat membuat tulang belakang atau bantalannya menjadi rusak.

“Kalau dia bantalannya rusak karena saraf teretekan, jadi HNP. Kalau tulang belakangnya yang ketekan terus jadi menyempit, akhirnya stenosis,” tuturnya.

Pemicu ketiga ialah duduk terlalu lama.
Hingga saat ini masih banyak orang yang tidak sadar bahwa duduk terlalu lama tidak baik untuk kesehatan. Dr. Wawan menyarankan, semisal kita duduk 1-2 jam, maka cobalah untuk berjalan selama 5-10 menit sebelum duduk kembali.

“Karena dengan kita mobilisasi beban itu menjadi lebih ringan, kan. Atau kalau memang orang yang sudah punya penyakit pinggang, setelah duduk 1-2 jam, tidak apa-apa kalau mau berbaring sebentar,” tegasnya.

Pemicu keempat dan seringkali tidak disadari, ialah kebiasaan merokok.
Dr. Wawan mengatakan jika kebiasaan merokok memperbesar peluang untuk menyebabkan kelainan atau kerusakan pada bantalan tulang belakang.

“Jadi semakin sering orang merokok, bantalan tulangnya semakin gampang rusak. Kalau rusak, otomatis akhirnya menjepit saraf juga. Oleh karena itu, saya biasanya menyarankan untuk berhenti merokok,” ucapnya.

Sementara terkait faktor usia, Dr. Wawan menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar, mengingat adanya proses degeneratif.

“Setiap orang itu memang natural, ya. Semakin lama semakin menua. Tapi sebenarnya dari sisi organ tubuh kan juga semakin menua. Untuk yang suka olahraga juga ya, masih suka loncat-loncat padahal usia sudah nambah, akhirnya saraf kejepitnya lebih mudah terjadi,” sebutnya.

Namun untuk saat ini, bukan karena bertambah usia saja yang menyebabkan risiko saraf kejepit lebih besar. Dr. Wawan bercerita jika ia pernah mengoperasi pasien berumur 14 tahun, akibat terlalu lama bermain game dari gadget-nya.

“Saya operasi saraf kejepit itu paling muda (pasien) umur 14 tahun. Padahal enggak pernah jatuh atau kecelakaan. Tapi secara umum memang orang-orang yang kita tangani usianya itu di atas 40-50an. Pasien yang paling tua itu 91 tahun. Jadi memang bertambah usia, risiko terkena saraf kejepit bertambah besar,” pungkasnya.