Amerika Serikat, GPriority.co.id – Beberapa waktu lalu dunia menyoroti memar di tangan Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump. Banyak yang bertanya-tanya, penyakit apa yang sebenarnya diderita Trump?
Melalui sebuah wawancara, baru-baru ini Trump bersikeras bahwa ia memiliki genetika yang sangat baik, saat disinggung terkait masalah kesehatannya, termasuk memar yang banyak terlihat di tangannya, MRI yang ia jalankan, hingga saat kamera menangkap dirinya sedang tertidur dalam beberapa pertemuan.
Selama sesi wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengungkap rutinitas medis yang ia lakukan dan memiliki sedikit unsur “takhayul”, bertentangan dengan apa yang telah disampaikan secara hati-hati selama berbulan-bulan oleh sekretaris persnya, Karoline Leavitt.
Sejak kembali menjabat pada januari lalu, kesehatan Trump memang tak lepas dari sorotan publik. Beberapa foto di media sosial menunjukkan punggung tangan Trump yang memar gelap, hingga ditutupi dengan riasan atau perban. Kondisi tersebut memicu beragam spekulasi yang beragam dan berulang kali coba dibantah oleh Leavitt.
Penjelasan yang paling umum ialah bekas luka tersebut berasal dari jabat tangan yang terus-menerus, menggambarkan Trump sebagai seseorang yang bertemu dan menyapa lebih banyak orang daripada presiden mana pun. Selain itu, penggunaan aspirin juga menjadi penyebab lainnya.
Namun, Trump justru menjelaskan hal yang berbeda. Ia mengatakan, dirinya mengonsumsi 325 miligram aspirin setiap hari, empat kali lipat dari dosis rendah yang umumnya direkomendasikan, meskipun dokter mendesaknya untuk mengurangi dosis.
Alasannya tak lain adalah karena faktor takhayul. Trump mengaku telah menjalani pengobatan yang sama selama beberapa dekade dan tidak ingin mengubahnya.
“Saya sedikit percaya takhayul. Mereka mengatakan aspirin baik untuk mengencerkan darah, dan saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya,” jelas Trump.
“Saya ingin darah yang mengalir dengan lancar dan encer melewati jantung saya. Apakah itu masuk akal?,” lanjut Trump.
Dengan dosis yang lebih tinggi, sebutnya, membuat tangannya pun mudah memar, terutama karena kulitnya semakin menipis seiring bertambahnya usia. Trump pun turut membenarkan bahwa ia menggunakan riasan untuk menutupi bekas luka karena tangannya memar seperti dipukul. Salah satu insiden yang tak terlupakan ialah saat cincin milik Jaksa Agung Pam Bondi melukai tangan trump ketika mereka melakukan tos.
Dalam kesempatan tersebut, Trump turut menyinggung misteri seputar pemindaian yang ia jalani di Walter Reed pada bulan Oktober lalu. Selama berminggu-minggu, Leavitt hanya menyebut prosedur itu sebagai “pencitraan canggih”, dan menolak mengatakan apakah itu MRI.
Trump pun mengklarifikasi kepada Journal bahwa ia sendiri yang menggambarkannya sebagai MRI, hingga kemudian mengkoreksi pernyataannya. Ia menyebut, tindakan tersebut merupakan pemindaian CT yang dilakukan untuk mengobati masalah kardiovaskular yang dialami. Hasilyna, tidak ditemukan kelainan apa pun pada tubuhnya.
Trump juga mengakui, dirinya menyesal menjalankan tes tersebut dan mengatakan bahwa hal ini justru seperti memberi amunisi kepada kritikus untuk mempertanyakan kesehatannya.
“Jika dipikir-pikir, sayang sekali saya menjalani tes itu karena memberi mereka sedikit amunisi,” katanya.
Trump juga membantah mengalami kesulitan pendengaran atau tidur. Ia menepis rekaman yang menunjukkan matanya tertutup selama rapat. Dia mengatakan bahwa dia memiliki waktu tidur yang sedikit karena memiliki jadwal yang padat.
“Saya tidak pernah banyak tidur. Kadang-kadang mereka akan mengambil gambar saya saat tertidur,” ujar Trump.
Meski ia menjadi Presiden dengan usia paling tua (79 tahun), namun Trump menolak disebut bahwa usianya memperlambat kinerja dan energinya.
Trump menekankan, “Genetika sangat penting, dan saya memiliki genetika yang sangat baik.”
