Jakarta, GPriority.co.id – Pernahkah anda mendengar istilah ‘Silent Killer’ dalam pernikahan?
Dalam dunia medis, Silent Killer merupakan istilah untuk penyakit yang gejalanya tidak jelas atau tidak terlalu mencolok sehingga bisa merenggut nyawa secara diam-diam.
Penyakit yang membunuh secara perlahan tersebut diantaranya serangan jantung, hipertensi, serta diabetes.
Istilah Silent Killer dalam pernikahan sebenarnya juga merujuk pada hal yang sama. Bahwa terlihat harmonis diluar, bisa jadi justru mematikan di dalam.
Bukan hanya soal masalah perselingkuhan, Silent Killer juga menjadi hal yang fatal dan dapat mematikan sebuah ikatan pernikahan. Mirisnya, banyak pasangan suami-istri yang justru mengabaikannya.

Setidaknya ada 6 perilaku Silent Killer yang sering terjadi pada hubungan pernikahan. Diantaranya :
- Silent Night : jarang mengobrol sebelum tidur malam,
- Silent Scrolling : lebih mementingkan scroll media sosial saat sedang bersama pasangan,
- Silent Solidarity : jarang quality time dengan pasangan,
- Silent Spanding : tidak terbuka dalam hal finansial,
- Silent Sloth : membebankan urusan rumah hanya kepada istri,
- Silent Socializing : diam-diam berinteraksi dengan lawan jenis diluar dari hal yang penting.
Cara Mencegah ‘Silent Killer’ Dalam Pernikahan

Silent Killer bekerja diam-diam tanpa disadari oleh kedua pihak. Oleh karena itu, jika tidak dicegah atau terus dibiarkan makan perlahan tapi pasti ikatan rumah tangga bisa retak, bahkan tak bisa diselamatkan lagi.
Sebagai contoh, rumah tangga artis Revand Narya dan Faby Marcelia yang berakhir pisah usai 11 tahun bersama.
Revand sempat mengeluarkan pernyataan jika dirinya merasa bersalah karena kurang perhatian terhadap sang istri.

Bahkan Faby Marcelia pun sampai menolak untuk rujuk dengan sang suami.
Untuk itu, berikut ini beberapa cara agar dapat mencegah Silent Killer dalam hubungan suami-istri.
- Lakukan komunikasi yang lebih tulus dan sesering mungkin.
- Luangkan waktu untuk benar-benar hadir secara fisik dan hati untuk pasangan.
- Belajar untuk saling memahami kebutuhan pasangan, baik secara lahir maupun batin.
Ingatlah bahwa hubungan harmonis membutuhkan peran kedua belah pihak.
Harmonis bisa dibentuk, rasa cinta bisa bertambah, namun kekecewaan tidak bisa terobati dengan mudah.
Oleh sebab itu, gunakan waktu yang ada bersama pasangan sebaik mungkin, sebelum waktu berharga tersebut tak bisa dirasakan kembali, atau bahkan hanya rasa penyesalan yang tertinggal.
Foto : Ilustrasi / Getty Images
