Israel, GPriority.co.id – Sebuah unggahan media sosial baru-baru ini oleh Kementerian Luar Negeri Israel mengkritik keras kepemimpinan Iran, dan menyatakan bahwa transisi kekuasaan apa pun di Teheran tidak akan mengubah sifat sistem politik negara tersebut.
“Wajahnya mungkin sedikit berubah. Rezim terornya tidak. Mojtaba Khamenei mewarisi warisan ayahnya berupa penindasan dan pertumpahan darah,” tulis kementerian tersebut dalam sebuah unggahan yang menampilkan gambar Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan putranya Mojtaba Khamenei.
Unggahan di akun X @IsraelMFA tersebut mencerminkan kritik Israel yang telah lama dilayangkan terhadap kepemimpinan Iran dan kebijakan-kebijakannya di seluruh Timur Tengah. Para pejabat Israel sering menuduh Teheran mendukung kelompok-kelompok militan dan meng destabilisasi kawasan tersebut, tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Iran.
Iran telah memasuki fase baru dan tidak pasti setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan udara pada 28 Februari. Sebagai tanggapan, kepemimpinan ulama Iran telah bergerak untuk menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi negara berikutnya.
Transisi mendadak ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional dan ketidakpastian politik. Mojtaba Khamenei akan menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga sejak Revolusi Iran dan yang pertama menggantikan ayahnya dalam peran tersebut.
Pengangkatannya segera memicu perdebatan tentang arah masa depan Iran, dengan banyak pengamat mempertanyakan apakah ia akan mempertahankan kebijakan ayahnya atau mengarahkan negara ke arah pendekatan yang lebih garis keras dan berfokus pada keamanan.
Sebagian besar analis percaya bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan akan melanjutkan arah ideologis yang telah ditetapkan oleh ayahnya. Republik Islam Iran telah lama berlandaskan prinsip-prinsip seperti penolakan terhadap pengaruh Barat, otoritas keagamaan yang kuat dalam pemerintahan, dan pengejaran kekuatan strategis di seluruh kawasan.
Fondasi inti ini diperkirakan tidak akan berubah dengan cepat. Untuk saat ini, banyak ahli sepakat bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan tidak akan memperkenalkan perubahan dramatis pada sistem politik Iran dalam waktu dekat. Sebaliknya, kepemimpinannya kemungkinan akan beroperasi dalam kerangka kelembagaan yang telah dikembangkan selama empat dekade terakhir.
Namun, keseimbangan kekuasaan internal dalam sistem tersebut dapat berubah. Jika lembaga-lembaga keamanan memperoleh pengaruh yang lebih besar di bawah Pemimpin Tertinggi yang baru, hal itu dapat membentuk kembali tata kelola domestik dan pendekatan Iran terhadap konflik regional.
Saat Iran memasuki babak baru ini, satu hal yang menjadi pertanyaan : Mojtaba Khamenei hanya meneruskan warisan ayahnya, atau akankah kepemimpinannya secara bertahap mendefinisikan kembali masa depan Republik Islam?
