Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump, sebut ingin ambil alih jalur gaza. Ia pun mengungkapkan rencananya ke depan.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih Jalur Gaza dan meratakan wilayah tersebut.
Lebih lanjut, Donald Trump mengatakan bahwa Washington akan bertanggung jawab untuk membongkar bom yang belum meledak dan memusnahkan seluruh senjata di area tersebut.
Disisi lain, Trump juga berjanji akan membersihkan bangunan yang hancur, dan akan membangun perekonomian baru guna menyediakan lapangan kerja dan perumahan bagi penduduk Gaza.
Selain itu, seperti dilansir dari Reuters, pertemuan Trump dan Netanyahu di Gedung Putih membahas berbagai isu terkait Gaza.
Diantaranya seperti gencatan senjata dan rencana relokasi warga Palestina. Trump pun mendorong wacana pemindahan warga Gaza ke negara-negara Timur Tengah seperti Mesir dan Yordania.
Namun baik Amerika Serikat maupun Israel, telah menolak rencana tersebut. Disisi lain, Otoritas Palestina juga menentang keras upaya relokasi tersebut.
Saat ini dilaporkan jika negosiasi gencatan senjata fase kedua antara Israel dan Hamas masih berlangsung.
Amerika Serikat Hentikan Bantuan ke Luar Negeri, Kecuali Israel

Sebelumnya, Pemerintah Amerika Serikat mengungkap rencana untuk menghentikan sementara bantuan militer kepada negara asing.
Namun dalam hal ini, Amerika Serikat akan tetap memberikan bantuan militer ke Israel dan Mesir, seperti dikutip dari laporan Wall Street Journal pada beberapa waktu lalu.
Keputusan tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan “America First” pemerintahan Donald Trump, dimana Trump lebih memprioritaskan kesesuaian bantuan asing dengan agenda nasional yang dibentuknya.
Langkah tersebut pun memicu beragam tanggapan dari dunia. Bagi pendukung kebijakan tersebut, hal ini dianggap sebagai upaya agresif untuk memastikan bantuan mendukung kepentingan nasional.
Namun, sejumlah mantan pejabat memberi peringatan jika pengurangan bantuan dapat melemahkan posisi AS, terutama terkait persaingannya dengan China.
Foto : Reuters
