HUT Ke-7 GRAMM Hotel Gandeng Seniman Jogja

Yogyakarta, GPriority.co.id – Dalam rangka memperingati hari jadi ke-7, GRAMM Hotel by Ambarrukmo menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk “Homage To Home” di Ballroom GRAMM Hotel, Rabu (3/7). Pameran ini menghadirkan karya-karya dari 10 seniman yang memiliki ikatan kuat dengan Yogyakarta, yakni Astuti Kusumo, Bambang Herras, Butet Kartaredjasa, Desy Febrianti, Dedy Sufriadi, Dyan Anggraini, Hanafi K. Sidharta, Nasirun, Suharmanto, dan Yusup Dilogo.

Pameran “Homage To Home” bertujuan untuk mengajak para perupa memaknai konsep rumah melalui karya seni mereka. Pengantar pameran menyatakan bahwa rumah bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga bisa diartikan sebagai kota tempat lahir, kampung halaman, tanah air, keluarga, atau tempat kita membangun hubungan dalam komunitas. Rumah menjadi jangkar dalam kehidupan yang seringkali kacau dan tidak menentu, membantu kita menavigasi kompleksitas kehidupan dengan tujuan dan arah yang lebih jelas.

General Manager GRAMM Hotel by Ambarrukmo, Aris Retnowati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ini bukan hanya merayakan estetika visual, tetapi juga menghormati peran rumah dalam mengembangkan dan memelihara kreativitas manusia.

“Rumah adalah tempat di mana mimpi-mimpi dilahirkan, inspirasi tumbuh subur, dan setiap dinding menceritakan kisah yang berharga,” ujar Aris Retnowati.

Aris Retnowati juga berharap GRAMM Hotel turut menjadi rumah bagi para seniman yang memberikan dukungan bagi para seniman untuk menuangkan proses kreatif mereka.

“Semoga pameran ini tidak hanya memperkaya pengalaman visual kita, tetapi juga menginspirasi kita untuk lebih menghargai dan merawat rumah kita masing-masing,” ujarnya.

Hikmah Rachma dari Hima Gallery, juga menekankan pentingnya Yogyakarta sebagai penggerak budaya.

“Sebagai ibu kota seni rupa, pameran ini menjadi wadah bagi para seniman untuk menunjukkan potensinya tanpa meninggalkan akar kebudayaan lokal dan landasan spiritual,” katanya.

Hikmah juga berterima kasih kepada GRAMM Hotel yang tengah memperingati hari jadi ke-7 tahun atas kesempatan yang diberikan untuk para pegiat seni.

“Bagi kami tentu sebagai sebuah kehormatan dan suatu kebanggaan karena GRAMM Hotel turut memberi ruang bagi kami penggiat seni dan 10 seniman ternama yang terlibat di pameran “Homage To Home” untuk memberikan warna bagi perkembangan seni rupa,” ujar Hikmah.

Dalam pameran “Homage To Home”, seniman-seniman dalam pameran ini menampilkan beragam interpretasi tentang rumah. Astuti Kusumo dalam karyanya “Omah-Omah” menampilkan dua sosok manusia yang berpelukan penuh kebahagiaan dan rasa sayang, menggambarkan kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga. Teknik ekspresionis dengan sapuan kuas lebar dan warna-warna kuat menciptakan semangat dan gairah yang menyala.

Bambang Herras, yang sering melakukan perjalanan budaya dan membuat sketsa di lokasi, menghadirkan karya yang menggambarkan energi tempat-tempat bersejarah seperti Candi Plaosan. Sketsa-sketsa Herras penuh dengan cipratan kuas dan tinta, menciptakan efek dramatis yang menangkap kekuatan pencahayaan alami.

Butet Kartaredjasa, yang dikenal sebagai budayawan dan seniman panggung, menyuarakan pandangan dan kegelisahannya melalui karya seni rupa. Dalam pameran ini, ia menampilkan karya berjudul “Pertanda Sehat”, bagian dari seri wirid visual yang menggambarkan proses doa dan refleksi pribadi melalui goresan tinta yang bermakna.

Dedy Sufriadi dengan gaya dan teknik abstraknya menghadirkan karya berjudul “Man From Digul”, yang mengangkat sejarah tahanan politik di Digul pada masa penjajahan Belanda. Dengan dominasi warna hitam dan goresan kuas yang kuat, Dedy mengekspresikan penderitaan dan perjuangan para tahanan politik dalam karya visual yang kuat dan emosional.

Desy Febrianti, seniman muda dengan gaya cerah dan optimis, menampilkan karya “Living the Dream” yang menggunakan teknik aquarel. Goresan kuas yang ritmis dan warna-warna cerah mencerminkan semangat menjalani hidup dan merenda mimpi, meskipun ada kerapuhan dan keraguan yang tersirat.

Dyan Anggraini konsisten menyuarakan tema kesetaraan peran perempuan melalui karyanya. Dalam pameran ini, ia menampilkan karya “Perempuan”, yang menggambarkan sosok perempuan dengan teknik arsir monokrom. Karya ini menyiratkan kelembutan, keuletan, dan perjuangan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Hanafi K. Sidharta dengan karyanya “Kepada Selatan Aku Bersikap, Oh Ibu” menghadirkan penghormatan kepada sosok ibu sebagai jangkar dan rumah bagi anak-anaknya. Karya ini menggambarkan kasih sayang dan ikatan kuat antara ibu dan anak, bagaikan batu yang tak lekang oleh waktu.

Nasirun, dengan latar belakang budaya Jawa yang kuat, menampilkan karya “Hari Ba’an Dewi Sri” yang merefleksikan penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Karya Nasirun penuh dengan bentuk-bentuk deformatif dan dekoratif yang dinamis, mencerminkan tradisi lokal yang kuat.

Suharmanto, dengan kekuatan teknik realistiknya, menampilkan karya “Sudut dan Ruang” yang menggambarkan rumah sebagai sudut dan ruang terkecil yang paling dikenali dan akrab. Lukisan gadis kecil berbaju merah dengan wajah teduh menjadi pusat perhatian, dengan pencahayaan yang menciptakan ilusi ruang dan kedalaman.

Yusup Dilogo, seniman patung, memamerkan karya tiga dimensi berjudul “Sebuah Penanda”, yang menggambarkan tunas yang tumbuh sebagai simbol harapan dan kehidupan.

Pameran “Homage To Home” di GRAMM Hotel Yogyakarta berlangsung hingga akhir bulan ini dan diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang konsep rumah serta menginspirasi pengunjung untuk lebih menghargai dan merawat rumah masing-masing.

Foto: GPriority