Inilah Formula Harga Dasar Jenis BBM Tertentu Teranyar

Penulis : Ponco | Editor : Dimas A Putra | Foto : ESDM

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 439 K/MG.01/MEM.M/2023 tentang Formula Harga Dasar Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Tertentu. Dengan berlakunya Kepmen ini, maka Kepmen ESDM Nomor 148 K/12/MEM/2020 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Dalam Kepmen tersebut Kemen ESDM menetapkan formula harga dasar untuk Jenis BBM Tertentu (JBT) yaitu, Minyak Solar dan jenis Minyak Tanah. Dua BBM tersebut merupakan jenis BBM yang mendapat subsidi dari Pemerintah.

Adapun penetapan formula Harga Dasar BBM oleh Pemerintah nantinya digunakan untuk menghitung Harga Jual Eceran Jenis BBM Tertentu. Atau, sebagai dasar perhitungan kompensasi yang akan dibayarkan Negara kepada Badan Usaha Pelaksana Penugasan Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji, terkait Kepmen, dalam bagian pertama dijelaskan tentang harga dasar untuk Jenis BBM Tertentu (JBT). “Terdiri atas biaya perolehan, biaya distribusi, dan biaya penyimpanan, serta margin,” ujar Tutuka dalam keterangan resminya di Jakarta, pada Senin (18/12).

Sementara di bagian kedua dikatakan, formula harga dasar untuk JBT jenis minyak tanah (kerosene) dengan formula 102,49% Harga Indeks Pasar (HIP) minyak tanah ditambah Rp263/liter. Kemudian, minyak solar (gasoil) dengan formula 100% HIP minyak solar ditambah Rp868/liter. Formula harga dasar ini, digunakan sebagai acuan untuk menetapkan harga dasar setiap liter JBT.

Selanjutnya Tutuka juga menegaskan bahwa perubahan untuk formula harga dasar JBT Minyak Solar tidak akan mempengaruhi besaran subsidi solar.

“Perubahan formula harga dasar JBT Minyak Solar tidak mempengaruhi besaran subsidi minyak solar sebesar Rp 1.000/liter. Komponen harga dasar JBT Minyak Solar ini terdiri atas biaya perolehan, biaya distribusi, dan biaya penyimpanan serta margin. Di mana biaya perolehan merupakan biaya penyediaan BBM dari produksi kilang dalam negeri dan/atau impor sampai dengan terminal BBM/depot,” ucapnya.