Iran, GPriority.co.id – Republik Islam Iran mengeluarkan peringatan keras pada Minggu (25/1) kepada AS di tengah ketegangan diplomatik yang sedang berlangsung. Pesan tersebut disampaikan melalui mural di Lapangan Enghelab di Teheran, yang menggambarkan pesawat yang rusak di dek kapal induk AS.
Hal ini terjadi di tengah ketegangan saat kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln dan kapal perang pengiringnya bergerak mendekat ke wilayah tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tindakan tersebut bersifat pencegahan. Ia mengatakan kapal-kapal tersebut diposisikan hanya untuk berjaga-jaga jika ia memutuskan untuk mengambil tindakan militer.
“Kita memiliki armada besar yang menuju ke arah sana, dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya,” kata Trump pada hari Kamis lalu, seperti dikutip dari Reuters.
Lapangan Enghelab sering digunakan oleh otoritas Iran untuk pertemuan yang diselenggarakan negara, dengan mural-muralnya sering diubah untuk mencerminkan pesan-pesan politik.
Pada hari Sabtu (24/1), komandan Korps Garda Revolusi Islam paramiliter Iran, Jenderal Mohammad Pakpour, mengatakan pasukan tersebut “lebih siap dari sebelumnya, jari di pelatuk.”
“Jika anda menabur angin, anda akan menuai badai,” tegasnya
Ketegangan AS-Iran muncul di tengah protes nasional di Republik Islam tersebut. Lebih dari 36.500 warga Iran dilaporkan tewas oleh pasukan keamanan selama penindakan nasional terhadap para demonstran pada tanggal 8 dan 9 Januari.
Hal ini berdasarkan dokumen pemerintah yang dirahasiakan dan bukti lain yang ditinjau oleh Dewan Redaksi Iran International. Meskipun data tersebut belum dikonfirmasi, jika dikonfirmasi, ini akan menjadi pembantaian demonstran dua hari paling mematikan yang pernah tercatat.
Berdasarkan data yang diperoleh Iran International dari badan keamanan Iran dan laporan lapangan, media tersebut melaporkan setidaknya 12.000 kematian. Menurut dokumen tersebut, pasukan keamanan menghadapi demonstran di lebih dari 400 kota dan desa, dengan lebih dari 4.000 lokasi bentrokan dilaporkan di seluruh negeri.
Dokumen Kementerian Dalam Negeri yang dilihat oleh Iran International menunjukkan jumlah korban tewas meningkat dari setidaknya 27.500 dalam laporan kepada parlemen pada 21 Januari menjadi lebih dari 36.500 dalam laporan intelijen selanjutnya kepada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Sementara itu, konektivitas internet di Republik Islam tetap terganggu selama 400 jam setelah pemadaman listrik dimulai. Kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa konektivitas hanya mencapai sekitar 1 persen dari tingkat normal.
