Kenaikan Bahan Pangan di Provinsi Bali Dinilai Masih Dalam Tahap Wajar

Jakarta, GPriority.co.id – “Kalau tidak ada gejala kayanya, walaupun naik mereka pikir nih mau naik gimana, apa kita bisa nyetak,” kata Kasub Koordinator Kelembagaan Usaha Investasi Dan Kelembagaan Dinas Pertanian Provinsi Bali Ir. Ketut Murtini yang diwawancarai langsung oleh tim GPriority di acara Gebyar Wisata Nusantara di JCC, Jumat, 1 Juli 2022.

Pola pikir inilah yang menurutnya manjadi prinsip dan keunikan dari orang Bali. Sebab hal tersebut mengarah pada suatu hal yang produktif yaitu bagaimana cara membuat pengganti bahan makanan pokok ketika barang aslinya akan mengalami kenaikan harga.

Ketut Murtini menjelaskan bahwa ketika wilayah daerah lain ribut soal harga pangan yang tinggi, di Bali justru kebalikannya dan baru menaikan harga setelah kabar tersebut ramai dikalangan masyarakat. Karena di Bali sendiri harga pangan masih dalam tahap wajar.
Seperti halnya masalah kenaikan harga telur yang ternyata di Bali sendiri tidak begitu mahal. Di Bali harga telur sebelumnya sekitar Rp 22.000. Namun ketika ramai tentang kenaikan harga, barulah harganya berubah.
Ketut Murtini mengatakan bahwa jika telur naik, masih banyak pengganti bahan makanan seperti tempe, teri, dan lainnya yang masih bisa di jangkau oleh masyarakat.
Selain itu, beliau juga memberikan gambaran bagaimana masyarakat Bali mengatasi masalah kenaikan harga minyak goreng yang banyak terjadi diberbagai wilayah.
“Minyak juga gitu, terbuat dari minyak kelentik. Buat sendiri, kita kan sembahyang gitu, lalu pake kelapa,” ujar Ketut Murtini. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Bali sudah biasa membuat minyak kelentik sendiri dari kelapa yang digunakan setelah sembahyang.
“Itulah yang patut ditiru oleh temen-temen yang lain,” sambungnya.
Tak hanya itu, beliau menjelaskan Bali tidak memiliki masalah terkait beras. Sistem sawah subak (sistem parairan sawah) menjadi salah satu kunci provinsi Bali dapat memenuhi pasokan beras tanpa expor dari provinsi tetangga.
Selain itu, sistem distribusi yang dilakukan dari setiap kabupaten secara rutin juga berperan dalam pemerataan persebaran beras lokal.
Hingga pada intinya Kasub Koordinator Kelembagaan Usaha Investasi Dan Kelembagaan Dinas Pertanian Provinsi Bali memberikan penjelasan sekaligus menjadikan Bali sebagai contoh untuk masyarakat di daerah lain terkait hasil produksi bahan pangan lokal yang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakatnya. (Gs.Foto.Hs)

Related posts