Mengenal Desa Wisata Kole Sawangan di Tana Tora

Desa Wisata Kole Sawangan berada di kaki Gunung Sado’ko, Desa Kole Sawangan, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Desa tersebut dapat ditempuh selama 45 menit dari Bandara Toraja.

Ada berbagai keunikan yang disuguhkan di Desa Wisata ini, salah satunnya yaitu Tongkonan. Rumah panggung berbentuk persegi panjang yang merupakan rumah tradisional masyarakat Toraja sebagai tempat tinggal.

Tongkonan memiiki beberapa peranan lain, yaitu menjadi tempat pajang tanduk kerbau yang menjadi simbol bahwa pemilik rumah adalah tuan rumah yang sudah melakukan rambu solo’, sebuah upacara pemakaman secara adat atau pesta sebagai tanda penghormatan terakhir para mendiang yang telah tiada.

Selain itu Tongkonan sebagai tempat rumpun keluarga dalam melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan sistem kepercayaan dan sistem kemasyarakatan, serta menjadi tempat memamerkan berbagai kerajinan tenun, anyaman, dan manik-manik hasil karya para wanita di desa tersebut.

Selain Tonggkonan, di Desa Wisata tersebut ada Salu Liang yaitu pekuburan batu terbanyak dan tertua di Toraja dengan total liang 107, sejak tahun 1215. Satu liang juga merupakan tempat pemujaan leluhur Aluk, Todolo, yaitu agama leluhur nenek moyang suku Toraja.

Desa Wisata Kole Sawangan juga terdapat beberapa seni tari yaitu Tarian Pa’gellu yang merupakan tari sukacita, dan Tarian Pa’Tirra yaitu tarian kreasi yang biasanya dilakukan oleh remaja laki-laki berjumlah genap yang membawa alat musik dari bambu.

Bagi para pecinta kopi, Desa Wisata ini juga menghadirkan Kopi spesial Pokko, merupakan produk kopi kemasan jenis arabika yang ditanam langsung di kebun kopi rumah warga, dan di-roasting dengan alat tradisional sehingga memiliki cita rasa yang khas.

Dari berbagai potensi tersebut, Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan Desa Wisata Kole Sawangan sangat layak untuk menjadi destinasi unggulan.

“Oleh karena itu kami menggagas bersama dengan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, tahun depan satu event internasional yang menandakan perjalanan kembali Toraja sebagai destinasi wisata unggulan kedua setelah Bali,” katanya. (Dw.foto.dok.Kemenparekraf)

Related posts