Mengenal Tradisi Sangjit dalam Masyarakat Tionghoa Bangka

Lazimnya sebelum resepsi ada prosesi seserahan setiap pernikahan. Melibatkan keluarga mempelai. Hal ini juga berlaku dalam adat masyarakat Tionghoa di Bangka. Memiliki ciri khas, sebagai pembeda dari budaya yang lain.

Bagi masyarakat Tionghoa, prosesi seserahan dalam pernikahan disebut sangjit, sudah berlangsung sejak ribuan tahun. Hanya saja, prosesi tersebut mengalami modifikasi, karena mengikuti perkembangan zaman.  

Sangjit adalah proses ketika mempelai pria datang membawa persembahan kepada pihak wanita. Acara sangjit dilakukan sebelum lamaran. Biasanya dilakukan satu bulan sampai sepekan pra pernikahan. Untuk waktunya juga diatur, yaitu pada pagi sampai siang hari.

Jenis barang yang dibawa, mulai dari kosmetik, perlengkapan mandi, perhiasan, pakaian, uang, buah-buahan, kaki babi, lilin, arak atau sampanye dan lain sebagainya. Hanya saja ini tergantung dari adat istiadat masyarakat sekitar.

Pada hari pelaksanaan sangjit, mempelai pria mengenakan kemeja berwarna merah atau lebih afdol  cheongsam. Adapun mempelai wanita mengenakan dress berwarna merah. Wakil keluarga wanita beserta para penerima seserahan, biasanya anggota keluarga yang telah menikah, menunggu di depan pintu rumah. Dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan. Lalu, rombongan mempelai pria datang setelah dipersilakan.

Rombongan pembawa nampan seserahan adalah wakil keluarga yang telah menikah dan tidak diperbolehkan janda atau duda. Pakemnya, prosesi seserahan jarang orangtua mempelai pria ikut, tapi mulai diperbolehkan di beberapa daerah.

Begitu ada tanda membolehkan masuk, seserahan diberikan satu per satu secara berurutan. Diberikan untuk orangtua mempelai wanita, lalu calon pengantin, diteruskan ke keluarga yang lain. Barang yang diberikan pihak pria, langsung dibawa ke dalam kamar, baru diambil sebagiannya.

Sama dengan adat masyarakat lain, setelah memberikan berbagai seserahan, keluarga kedua belah pihak mengadakan ramah tamah. Pihak keluarga mempelai wanita menyiapkan makan siang. Pada akhir kunjungan, barang-barang seserahan yang telah diambil sebagian diserahkan kembali kepada pembawa.

Ketika pamit, pihak perempuan memberikan juga seserahan berupa manisan dan berbagai keperluan pria. Wakil keluarga wanita juga memberikan angpao kepada setiap pembawa seserahan. Hanya saja proses seperti ini dianggap rumit, sehingga mulai dipadukan dengan budaya lain, agar simpel. (VIA)

Related posts