Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan destinasi pariwisata nasional. Menurutnya, satu kejadian kecelakaan mampu mencoreng citra pariwisata Indonesia di dunia.
“Target kita jelas, yaitu zero accident di seluruh destinasi pariwisata Indonesia. Satu kejadian saja dapat merusak kepercayaan wisatawan dan mencoreng citra Indonesia di mata dunia,” ujar Menpar dengan tegas dalam “Rapat Koordinasi K/L Terkait Isu Keselamatan Wisatawan di Destinasi Wisata” yang digelar secara daring pada Rabu (2/7).
Menurutnya, keselamatan wisatawan bukan hanya tanggung jawab satu institusi, melainkan isu lintas sektor yang membutuhkan aksi kolaboratif dari seluruh Kementerian/Lembaga (K/L), pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga komunitas lokal.
Widiyanti memetakan sejumlah isu utama yang harus menjadi perhatian bersama, mulai dari keselamatan transportasi, pengawasan teknis daya tarik wisata, pengaturan kapasitas pengunjung, hingga SOP keselamatan untuk destinasi ekstrem.
“Tanpa sistem keselamatan yang kuat, pariwisata tidak akan berkelanjutan, apalagi mampu bersaing di tingkat global,” imbuhnya.
Kementerian Pariwisata, lanjut Widiyanti, kini tengah menyusun langkah terpadu berupa sistem peringatan dini, mitigasi risiko, respons darurat, dan penguatan pengawasan untuk berbagai jenis destinasi wisata, mulai dari wahana hiburan hingga ekowisata.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto, menambahkan bahwa pihaknya telah menetapkan 43 jenis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di sektor pariwisata, dengan 14 di antaranya termasuk dalam kategori keselamatan tinggi.
Kemudian, kata dia, 7 SKKNI masuk dalam kategori keselamatan menengah, dan selebihnya 22 SKKNI masuk dalam kategori keselamatan rendah.
“Masing-masing tentu menjadi perhatian kita, bagaimana standarnya di lapangan bisa sesuai harapan kita,” ujar Hariyanto.
Sementara itu, Kasubdit Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi Basarnas, Emy Freezer, mengingatkan bahwa masih banyak destinasi wisata yang belum memiliki rute evakuasi standar, sistem pemantauan, atau SOP tanggap darurat yang solid.
“Perlu pelatihan standar untuk pemandu lokal, pendirian titik penyelamatan di area wisata, sistem peringatan dini, hingga peta risiko pariwisata nasional. Ini semua harus masuk dalam Safe Tourism Roadmap 2025–2030,” tegas Emy.
Foto: dok.Kemenpar
