Nasib Hidup Penjual Gula, Tak Semanis Gulanya

Kehidupan penjual gula aren saat pandemi dan nasib yang menimpanya. Bayu tak cukup mencicipi gula untuk merasakan hidup manis yang mulai kritis.

Kiprah Sebagai Penjual Gula

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Bayu Saputra (40). Sudah satu dekade ia menjadi penjual gula aren asal kampung Cipurun, Lebak selatan, Banten. Selama itu pula ia menggantungkan hidup pada manisnya gula.

Ia dipercaya menyuplai gula aren ke salah satu perusahaan produk herbal terdepan di Ibukota, PT Mahkotadewa Indonesia. Sebelum masa pandemi, dalam sebulan, minimal, Bayu bisa mengirim 500 kg lebih gula aren.

Selain ke perusahaan, selama satu tahun terakhir ini, seminggu sekali ia kerap mengirim pesanan gula ke Serang dan Jakarta untuk dijual kembali. Dalam seminggu, ia dapat mengirim 100 kojor (500 butir) ke pedagang eceran di Serang dan Jakarta.

”Saya kirim ke adik saya yang ada di kota. Nanti mereka yang jual ke warung-warung, ada juga pembeli langganan yang sudah pesan sebelumnya,” tutur Bayu saat diwawancarai (24/5).

Bayu memang bukan petani yang memproduksi gula aren. Ia hanya pihak kedua yang menjual produk ke pihak ketiga sebagai pemesannya.

Menyediakan gula aren untuk memenuhi kebutuhan pemesan sebanyak itu bukan perkara mudah. Sebagai pihak yang melayani pemesan, ia harus mencari gula aren sampai ke pelosok-pelosok perbukitan dan kampung-kampung terpencil.

Cibarengkok, Cikarang, dan Gunung Gede adalah kampung-kampung yang sering ia kunjungi untuk mencari petani aren dan para tengkulak. Untuk sampai ke kampung itu membutuhkan waktu jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan.

“Kadang nyari ke tengkulak, kadang ke daerah tonggoh (perbukitan). Malah kadang mah ke rumah-rumah warga petani arennya,” katanya menjelaskan.

Belum lagi bila musim hujan. Karena akses jalan menuju kampung itu masih bebatuan dan belum diaspal, akan memakan waktu lebih dari dua jam perjalanan karena jalannya yang licin.

Bayu memang tidak mendapatkan keutungan yang besar dari profesinya sebagai penyuplai gula aren. Ia hanya mengambil untung 2.000 per-kojor (5 butir gula).

“Kalo harga pasar di sini standarnya 35 ribu, saya lebihin jadi 37. Kalo bagus bisa sampai 40, saya lebihin juga jadi 42,” jelasnya.

Tapi, Bayu mengaku keutungan itu sudah lumayan cukup untuk menafkahi keluarganya sehari-hari.

Pendapatan Berkurang Akibat Pandemi

Namun, pendapatan Bayu selaku penyuplai mulai berkurang sejak adanya pandemi covid-19. Dibatasinya kegiatan di perkotaan mengakibatkan berkurangnya pesanan secara drastis.

“Ya lumayan kehalang. Tapi mau gimana lagi,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Sebenarnya, awal-awal mah masih normal, pas bulan April nah baru mulai nurun (pesanannya).”

Sejak diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), semua kegiatan hilir-mudik mulai dibatasi. Meski transportasi lintas daerah masih tetap ada, tapi penumpangnya telah berkurang. Hal ini membuat berkurangnya alat transportasi yang beroperasi. Bayu mengeluhkan soal itu lantaran ia kerap mengirim pesanannya ke Rangkasbitung melalui supir dan kondektur mini bus langganannya.

Dengan ongkos sebesar Rp200 ribu, gula akan sampai di Rangkas Bitung dan dijemput oleh pihak ketiga.

“Biasanya 200 ribu sampe Rangkas. Tugas saya cuman sampai di situ. Abis itu mah saya angkat tangan,” ujar Bayu.

Tak hanya itu, dampak penyebaran Covid-19 terhadap perekonomian Bayu semakin parah ketika masuknya bulan Ramadhan. Bahkan, saat mendekati pertengahan bulan Ramadhan, ia sama sekali tak mendapat pesanan.

Tentu, hal itu sangat memengaruhi perekonomian Bayu. Dari penghasilan menjual gula yang biasanya 1 juta sampai 2 juta per bulan, saat menjelang hari raya Idul Fitri ini, ia tak memiliki penghasilan tambahan lagi selain mengandalkan pendapatan dari ngojek.

Penghasilan sebagai tukang ojek pun tampaknya masih kurang. Bagi Bayu, ngojek di kampung seperti ini masih tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari karena sepinya penumpang. Di sisi lain, masyarakat pun enggan naik ojek karena khawatir tertular virus Covid-19.

“Ngirim gula sudah gak bisa, ya saya ngojek. Itu juga masih jarang yang mau naik ojek. Orang-orang takut kena korona,” kata keluhnya.

Untuk menyelamatkan dapur keluarga, kini, Bayu mulai fokus mengurus 10 ekor kambingnya untuk persiapan Idul Adha, sambil menunggu situasi kembali normal.(Hakiki Fauzan M.K.,Mahasiswa Sastra Indonesia FISIB Universitas Pakuan)

Related posts