Dirjen Binapenta Kemnaker Aris Wahyudi: TKA China Akan Menguntungkan Kita


Dua perusahaan yang berlokasi di Sulawesi Tenggara, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Stell (OSS) pada bulan April lalu telah mengajukan kepada pemerintah untuk mendatangkan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China.

Menurut Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja (Dirjen Binapenta Kemnaker) Aris Wahyudi dalam siaran persnya pada Kamis (18/6/2020),TKA tersebut didatangkan untuk mengerjakan 33 tungku smelter.

“ Pengerjaan tungku smelter sendiri diklaim bisa menyerap ribuan karyawan. Dan menurut mereka pada saat ini sudah ada 11.000 tenaga kerja yang direkrut,” jelas Aris.

Niat baik inilah yang membuat pemerintah pusat seperti dikatakan Aris, menyetujui permintaan PT. VDNI dan PT. OSS.

“ Bisa dibayangkan, jika pemerintah pusat menolak. 11.000 pekerja lokal yang sudah direkrut terancam kembali dirumahkan tanpa mendapatkan gaji. Karena proyek pembangunan macet. Kasihan kan mereka,” jelas Aris.

Aris juga mengatakan kedatangan 500 TKA pada awal Juli nanti sudah pasti menjadi polemik, karena Covid-19 di dunia belum mereda. Untuk itulah dirinya meminta pengertian dari semua pihak. Karena hadirnya TKA dari China bisa membuat ribuan pekerja lokal menafkahi keluarga mereka.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulawesi Tenggara ,Saemu Alwi pun menyambut baik kedatangan tenaga ahli yang berasal dari China. Pasalnya, transfer ilmu yang dijanjikan manajemen PT. VDNI dan PT.OSS bisa dilakukan pada Juli nanti.

“ Saat bertemu dengan manajemen PT.VDNI dan PT.OSS april lalu, mereka menjanjikan transfer ilmu teknologi kepada tenaga lokal. Caranya dengan menempatkan pekerja lokal untuk mendampingi TKA,” jelas Alwi.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi yang awalnya menolak kini melunak. Alasannya, karena pemerintah pusat sudah memberikan izin.” Jadi kita tidak boleh bertentangan dengan pemerintah pusat. Namun untuk masuk ke Sulawesi Tenggara ada syaratnya,” ujar Ali Mazi pada Selasa (16/6/2020).

Adapun syarat yang diajukan adalah, harus menjalani karantina selama 14 hari sebelum diperbolehkan bekerja dan protokol kesehatan lainnya.

“ Ini bertujuan untuk mencegah penularan virus corona,” tutur Ali Mazi.

Pendapat berbeda justru datang dari anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Dauli. Dirinya dengan tegas menolak kedatangan TKA asal China, karena berpotensi membuat penyebaran Covid-19 semakin banyak. “ Tolong jangan buat rakyat Sulawesi Tenggara menjadi resah dengan kedatangan mereka,” jelas Saleh.

Dirinya juga mempertanyakan kebijakan pemerintah Indonesia yang dinilai aneh pada saat menghadapi investor dari China.” Terkadang, Indonesia kelihatan kurang berdaulat jika sedang memenuhi tuntutan para investor dari China, ini tentu saja menjadi suatu hal yang sangat inferior,” tegas Saleh.

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan juga dengan tegas menolak kedatangan TKA asal China. Bahkan politisi dari Partai Demokrat meminta Presiden Jokowi untuk bertindak tegas terkait kedatangan TKA asal China pada Juli nanti.

“ Masuknya TKA China tentu saja menimbulkan kegaduhan dan juga ketidakadilan di kalangan masyarakat terutama mereka yang kehilangan pekerjaannya akibat dampak Covid-19,” ucap Syarief.

Syarief juga mengatakan, hal ini menjadi contoh bahwa pemerintah tidak tegas dalam hal penanganan penyebaran pandemi Covid-19.

“Wajar saya mengatakan demikian, karena TKA yang datang berasal dari negara yang menjadi episentrum pandemi,” Tutur Syarief.

Menanggapi polemik ini, , Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan investasi Jodi Mahardi mengatakan, pembangunan tungku smelter ini menggunakan teknologi yang berasal dari China dan tidak dikuasai oleh pekerja lokal dan TKA dari negara lainnya. “ Jadi wajar kan mereka mendatangkan tenaga ahli dari China,” jelas Jodi. (Haris)

Related posts