Peran Kartini Dimasa Pandemi

Buah dari perjuangan Raden Ajeng Kartini dimasa lampau, kini sudah bisa dipetik dan dirasakan langsung oleh kaum perempuan dimasa kini. Sebab, stigma bahwa perempuan berada di kasur, sumur dan dapur tersebut, seturut dengan perkembangan zaman juga perubahan cara berpikir, perlahan tapi pasti, perempuan kini telah memiliki peran serta hak yang sama dengan laki-laki.

Tengok saja di negara-negara berkembang/maju. Perempuan telah menduduki posisi-posisi puncak nan strategis di bidang pemerintahan, lembaga termasuk di perusahaan bahkan menjadi pemimpin negara (presiden, perdana menteri) dan bidang-bidang lainnya. Begitu juga halnya di Indonesia, Kartini masa kini, banyak bukti yang menjelaskan dan menegaskan kepiawaian para kaum hawa ini dalam memimpin suatu organisasi, pemetintahan, lembaga dan perusahaan.

Dimasa kini, khususnya dimasa pandemi Covid-19 ini, kedududukan perempuan sudah tidak diragukan lagi. Dengan kata lain, Kartini masa kini, mulai dari bagian terkecil (ibu rumah tangga) hingga bagian terbesar sangat berarti bagi bangsa dan republik ini dalam memerangi serta memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, peran ‘Kartini’ dimasa pandemi ini pun tidak serumit yang dipkirkan. Melainkan, para ‘Kartini’ yang ada di tengah-tengah kita (keluarga dan lingkungan tempat tinggal) ini juga bisa lihat dan rasakan perannya.

Tengok saja usaha dan upaya yang dilakukan pelukis perempuan, Afriani yang berjuang untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya, terus berkarya (melukis) dan tentunya berjuang dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Perempuan kelahiran Selayo, Sumatera Barat, 5 Januari 1973 ini ingin anak juga keluarganya tetap sehat, terbebas dari Covid-19 dan tentunya tetap konsisten dalam berkarya. “Virus Covid-19 bukan untuk ditakuti, tapi patut diwaspadai dengan tetap menjaga kesehatan tubuh juga pikiran juga wajib mematuhi protokol kesehatan (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak),” katanya.

Ibu dari satu orang anak ini menuturkan, meski dimasa pandemi, dirinya tetap berkarya (melukis) di studio yang ada di rumahnya dan juga berkarya di komunitasnya yang ada di Pasar Seni Ancol. Tidak hanya itu, dalam rentang waktu 2020, ia juga mengikuti tiga kali pameran bersama, yakni The 2nd Dafen International Oil Painting Biennale, Shenzhen (China).

Kemudian pameran Semesta Perempuan in Museum Basoeki Abdullah dan Celebrating Diversity in Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta. “Meski masa pandemi, saya tetap berkarya dan berjuang untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga dan biaya pendidikan anak saya,” tuturnya.

Pelukis yang pernah meraih penghargaan sebagai Finalis Gallery Award Art Revolution Taipei 2019 ini menjelaskan, selain konsisten dalam berkarya (sebulan menghasilkan satu hingga empat karya lukis dengan berbagai ukuran), untuk bertahan juga memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan keluarga, ia acapkali melukis lukisan pesanan.

“Dimasa pandemi Covid-19, dimasa pailit ekonomi seperti ini, berbagai cara dan upaya harus dilakukan, yang penting tetap dalam jalur kesenian, halal, tetap menjaga imunitas/kebugaran tubuh dan tetap menjalankan protokol kesehatan,” tuturnya.

Perempuan yang pernah menghelat tiga kali pameran tunggal tersebut menjelaskan, bahwa dirinya juga kerap memberikan edukasi mengenai protokol kesehatan, pentingnya menjaga kesehatan-kebugaran tubuh serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. “Kalau kita sehat dan bugar, maka imun kita akan terbentuk dan tubuh kita bisa menolak dan melawan virus. Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung kita juga memberikan keamanan dan kenyamanan pada orang lain,” pungkasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Kia Poetri yang berprofesi sebagai aktris dan pemain FTV. Kia mengungkapkan, meski dimasa pandemi ia masih tetap menjalankan aktivitas dan kesebikan seperti biasa. Mulai dari mengurus anak, memasak, main motor, buat konten video dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. “Selain itu, dimasa pandemi Covid-19 ini lebih banyak main di rumah bersama anak, agar anak lebih senang,” ungkapnya.

Kia mengaku, dimasa pandemi ini dirinya tetap bersyukur karena masih memiliki banyak aktivitas. Mulai dari kesibukan rutin, yakni mengurus anak dan menjadi ibu rumah tangga, dirinya juga tetap bisa bersilahturahmi dan tetap kreatif bersama teman-temannya.

“Meski sempat berpikir kapan pandemi akan berakhir, aku bersyukur masih memiliki kesibukan, masih bisa berkarya dengan tetap menjaga kesehatan serta selalu menerapkan protokol kesehatan,” imbuhnya.

Kartini kelahiran Bekasi, 4 Desember 1994 dan kerap malang melintang di layar kaca FTV, sinetron dan layar lebar ini juga memunyai tips agar pikiran tetap sehat dan terhindar dari virus Covid-19. Beberapa diantaranya, selalu berpikiran positif, menonton atawa mendengar berita-berita yang positif agar pikiran tetap jernih dan sehat.

“Yang jelas, momentum pandemi ini aku manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, lebih dekat dengan anak, waktu istrahatnya lebih banyak. Kalau tidak bisa menjadi ‘Kartini’ buat orang banyak, paling tidak bisa menjadi ‘Kartini’ buat keluarga dan orang-orang terdekat,” tandas perempuan yang memiliki hobi free style motor dan berenang ini.

Lain Kia, lain pula yang dialami pengusaha muda dibidang kuliner, Dewi Syafrianis. Dewi mengatakan, usaha kuliner rendang dan sambalnya yang beralamat di Perum Permata Depok, Jl Mirah 1 M7, Cipayung, Depok tersebut sudah dimulai sejak 2010. Namun mulai fokus pada 2018 lalu. “Karena ketika mulai membuka usaha, saya masih bekerja atawa menjadi karyawan tetap kala itu. Namun, setelah keluar kerja, saya saat ini jadi fokus untuk usaha,” katanya.

Kemajuan teknologi dan dukungan pemerintah terhadap dunia UKM, terlebih dimasa pandemi ini benar-benar dimanfaatkannya dengan baik. Sebab, untuk memasarkan/menjual bisa dilakukan melalui online, yakni marketplace yang telah disediakan salah satu bank.

“Alhamdulillah meski masa pandemi, Allah selalu berikan rezeki. Saya masih bisa menjalankan usaha kuliner dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Sedangkan akumulasi keuntungan tiap bulannya kurang lebih kisaran Rp 10-15 juta. Dengan demikian kita bisa menjadi ‘Kartini’ untuk diri sendiri dan keluarga,” tutupnya. ***AB

Related posts