Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto menunjuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi.
Penunjukan tersebut disampaikan setelah rapat terbatas yang digelar di Istana Negara, Jakarta. Rapat tersebut membahas strategi pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah program strategis guna mempercepat implementasi energi ramah lingkungan. Salah satu fokusnya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang akan dimanfaatkan oleh sekolah serta desa di berbagai daerah.
“Kami baru selesai melakukan rapat terbatas dengan Bapak Presiden, yang pembahasannya pada implementasi energi bersih dan terbarukan. Di dalamnya, termasuk kaitannya dengan (program) 100 gigawatt (GW) untuk PLTS, kemudian energi baru terbarukan,” ujar Bahlil dikutip Antara, Sabtu (7/3).
Bahlil mengatakan pembentukan Satgas Percepatan Transisi Energi bertujuan mempercepat realisasi program energi bersih sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran negara. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Menurut Bahlil, karena dengan mengonversi dari PLTD atau diesel ke PLTS, maka itu akan mengakibatkan efisiensi terhadap subsidi listrik dan sekaligus mendorong percepatan untuk pemakaian motor dan mobil listrik.
Selain mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, pemerintah juga berupaya memperluas akses listrik hingga ke wilayah terpencil. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerataan layanan energi, termasuk di pulau-pulau kecil di Indonesia.
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo juga meminta percepatan program konversi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik.
Pemerintah bahkan menargetkan sekitar 120 juta sepeda motor di Indonesia dapat beralih menjadi motor listrik dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.
“Bapak Presiden sangat berkeinginan untuk implementasinya dilakukan segera dan insya Allah kita akan melakukan dalam kurun waktu yang tidak lama. Bapak Presiden tadi menyampaikan bahwa maksimal 3 sampai 4 tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi,” sebut Bahlil.
