Rupiah Melemah 12 Persen dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Ilustrasi uang Indonesia/Foto iStock Ilustrasi uang Indonesia/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hingga menembus level Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan pekan ini.

Pelemahan tersebut membuat rupiah tercatat turun sekitar 12 persen dibanding posisi awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari TradingView dan dikutip sejumlah media ekonomi, rupiah berada di level Rp15.489 per dolar AS saat pelantikan Prabowo pada Oktober 2024. Kini, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.400 per dolar AS.

Jika ditarik garis sejak awal masa jabatan Presiden Prabowo Subianto, rupiah tercatat telah anjlok sekitar 12 persen.

Tekanan terhadap rupiah juga mendapat sorotan dari Bank Indonesia (BI). Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik hingga tingginya suku bunga Amerika Serikat.

“Depresiasi rupiah disebabkan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, suku bunga tinggi dari Federal Reserve AS, dan keluarnya banyak investor global dari semua pasar negara berkembang,” ujar Perry Warjiyo seperti dikutip Reuters.

Ia menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Bank Indonesia akan melakukan intervensi tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri sepanjang waktu,” kata Perry.

Adapun pelemahan rupiah sudah terjadi bahkan sebelum konflik geopolitik terbaru memanas. Investor disebut mulai khawatir terhadap kondisi fiskal Indonesia, independensi bank sentral, serta transparansi pasar modal domestik.

Sementara itu, Trading Economics mencatat rupiah telah kehilangan hampir 4 persen sepanjang tahun berjalan dan menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia. Pada 7 Mei 2026, kurs USD/IDR tercatat berada di level 17.342.