Saat Sukarelawan Uni Soviet Membantu Indonesia Menghadapi Belanda

Jakarta, GPriority.co.id – Tahukah anda jika sukarelawan yang terdiri dari tentara Uni Soviet (kini Rusia) pernah membantu pihak Indonesia menghadapi Belanda saat pembebasan Irian Barat? Begini kisahnya.

Sudah rahasia umum pada era perang dingin di setiap konflik antar negara melibatkan dua kekuatan besar yaitu liberal (Amerika) dan sosialis (Uni Soviet). Termasuk hingga hari ini dimana ada BRICS pimpinan Rusia dan Uni Eropa/ NATO yang tak lepas dari Inggris serta Amerika. Dua kekuatan besar itu saling berebut pengaruh serta saling membantu negara yang menjadi sahabatnya.

Pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Isinya ialah, menggagalkan pendirian negara merdeka di Irian Barat serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Irian Barat. Pemerintah pun memobilisasi rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari imperialisme Belanda.

Dibentuk pula Komando Mandala dimana Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglimanya. Komando ini bertugas merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Irian Barat dengan Indonesia. Menjelang operasi tersebut, Indonesia mencari bantuan senjata dari luar negeri.

Uni Soviet, yang merupakan salah satu sekutu utama Indonesia saat itu pun membantu Indonesia dengan paket senjata senilai 2,5 miliar dollar. Bantuan tersebut berupa senjata, amunisi, pesawat tempur, kapal selam, dan sukarelawan. Terkait sukarelawan, Angkatan Bersenjata Uni Soviet mengirimkan 1.740 personilnya ke Indonesia. Personil itu terdiri dari instruktur dan teknisi yang terkadang juga sebagai tentara tempur lapangan. Angkatan Laut (AL) Indonesia adalah matra yang paling banyak mendapatkan sukarelawan Uni Soviet. Hampir seribu personil AL Uni Soviet diperbantukan di Pangkalan AL Dermaga Ujung, Surabaya.

Menurut Laksamana Muda (Purn). I Nyoman Suharta, tugas utama mereka ialah mengajari personil AL Indonesia dalam menggunakan alutsista yang dihibahkan Uni Soviet. “Tetapi dalam kesempatan tertentu, mereka juga dilibatkan dalam operasi tempur di perairan Irian,” ujarnya.

Selama di Surabaya, para personil AL Uni Soviet tersebut ditempatkan di Ksatrian Pendidikan Angkatan Laut Ujung (KPALU). Pada Agustus 1962, seiring meredanya konflik Belanda – Indonesia di Irian, sukarelawan Uni Soviet tersebut ditarik kembali ke negaranya.

Foto: Istimewa