Sempat Ramai di X, Bea Cukai Bantah Pungutan Bea Masuk 30% untuk Impor Peti Jenazah

Jakarta, GPriority.co.id – Kabar mengenai pungutan bea masuk sebesar 30% untuk impor peti jenazah yang menjadi sorotan di media sosial, khususnya Twitter atau X, dibantah oleh Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Encep Dudi Ginanjar. Menurutnya, pernyataan tersebut tidaklah benar setelah dilakukan pengecekan terhadap pengiriman peti jenazah dan jenazah dari Penang, Malaysia.

“Perlu diketahui bahwa atas pengiriman jenazah dari luar negeri ke Indonesia tidak dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor,” ungkap Encep dilansir laman Bea Cukai, Senin (13/5).

Lebih lanjut, Encep menjelaskan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.05/1997, peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah diberikan pembebasan bea masuk. Hal ini mencakup segala jenis atau komposisi peti yang digunakan untuk menyimpan jenazah atau abu jenazah untuk keperluan pengangkutan ke dalam daerah pabean Indonesia.

Encep juga menambahkan bahwa impor peti jenazah dan jenazah diberikan pelayanan segera atau rush handling dalam pelayanan kepabeanan. Rush handling adalah pelayanan khusus yang diberikan atas barang impor tertentu yang memerlukan penanganan segera untuk dikeluarkan dari kawasan pabean, termasuk jenazah.

“Apabila terdapat tagihan saat penanganan peti jenazah, ada baiknya importir memastikan lagi detail tagihan kepada pihak kargo atau agen yang menangani pengiriman jenazah,” ucap Encep.

Sebelumnya, pengguna X dengan nama @ClarissaIcha membuat cuitan yang menyatakan bahwa ada temannya diminta membayar bea masuk 30% dari harga peti jenazah. Hal itu terjadi saat temannya membawa jenazah ayahnya dari Penang, Malaysia.

“Kemarin ngelayat ayahnya teman, almarhum meninggal di Penang. Teman ini cerita kalau di airport dia harus bayar bea cukai 30% dari harga peti jenazah ayahnya, dianggap barang mewah! Ya peti memang tidak murah, tapi Ga ada waktu debat dan nunggu viral kan. Terlalu,” ujar pengguna X tersebut.

Penulis: Ahmad Faqih Zuhair
Foto: Bea Cukai