SIPAP Untuk Stabilitasi Harga

Jakarta,Gpriority-Dalam rangka koordinasi antar provinsi secara nasional terkait implementasi Sistem Perdagangan Antar Provinsi (SIPAP) Nasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada Jum’at pagi (6/3) menggelar Rapat Koordinasi Nasional yang dihadiri Kepala Dinas Perdagangan Provinsi.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar Sutriono Edy mengatakan, sistem ini sangat baik sekali untuk diterapkan di Indonesia.Karena sistem inu dibangun untuk menjaga keseimbangan antar daerah, mengatasi stabilitas dan kesenjangan daerah dan meminimalisir hambatan.

“Ini akan semakin membuat semangat pemerintah daerah dalam menginput data perdagangan,” ujar Sutriono.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Drs. SUHANTO, M.M., yang membuka acara mengatakan SIPAP awalnya berasal dari Jawa Timur, namun melihat perkembangannya yang baik maka sistem ini diaplikasikan oleh Kemendag untuk dikembangkan dan diterapkan kepada daerah lainnya.

” Pada hari ini kita membahas SIPAP. Memang benar sesuai dengan UU no.7 tahun 2014. Dan PP no 5 tahun 2020, tentang kewajiban menyiarkan informasi perdagangan.Dan mempunyai alat untuk meminta kepada stakeholder menyampaikan informasi perdagangan. Atas dasar alasan itulah makanya pada hari ini kita menggelar Rakornas terkait SIPAP,” ujar Suhanto.

Dijelaskan oleh Suhanto, ada banyak sekali materi yang akan didapatkan terkait dengan SIPAP.

Suhanto juga menyadari,sebaik apapun sistem dibangun kalau tidak dikasih anggaran tidak akan mengisi, sehingga kami menyiapkan tambahan dana dekom,harapannya agar dinas perdagangan di daerah bisa secara aktif mengisi perdagangan antar pulau.

“Ini penting dengan sistem ini Kemendag bisa mengambil kebijakan dalam stabilitasi harga. Harapan kami dengan adanya sistem ini bisa mengetahui mana yang surplus dan minus sehingga bisa meminta yang surplus menyuplai kepada yang minus,” ujar Suhanto.

Suhanto pun memberikan contoh kenaikan harga bawang putih dan gula, begitu muncul adanya virus corona maka beberapa pelaku usaha mengerem barangnya. Dengan harapan harga akan naik.

“Khusus untuk gula,akhir Desember kita punya stok banyak 495 ton,Padahal konsumsi kita hanya 229 ribu ton. Dan kami prediksi ini cukup untuk dua bulan. Hal yang sama juga terjadi di bawang putih yang mulai merangkak mencapai angka 40 ribu lebih. Kenaikan itulah yang membuat Kemendag memanggil importir yang mengimpor barang dan kami ancam. Dan begitu diancam, harga menjadi turun,” ujar Suhanto.

Namun penurunan yang tidak terlalu drastis membuat Mendag Agus melakukan keputusan mengimpor gula dan bawang putih. Dengan adanya impor ini dapat dipastikan harga gula dan bawang putih stabil.

” Harapan kami menjelang bulan Ramadhan harga bisa tetap stabil,kami akam mengawal dan hari ini akan memanggil importir agar mengirimkan barang tersebut dengan mengacu pada harga acuan yang telah ditentukan. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya informasi. Untuk itulah SIPAP dibutuhkan,” jelas Suhanto.

Suhanto menambahkan, harapan kami sistem ini hanya sebagai pajangan tetapi sebagai kebijakan yang mengangkat hajat hidup orang banyak.(Hs.Foto:Hs)

Related posts