Washington, Gpriority.co.id – Presiden AS Donald Trump mengumumkan “pembicaraan produktif” dengan Iran menuju penyelesaian konflik Timur Tengah, sambil tunda serangan ke infrastruktur energi selama lima hari.
“Kami melanjutkan pembicaraan gencatan senjata dengan Iran,” tulis Trump di Truth Social, seraya menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda penyerangan ke pembangkit listrik dan energi Iran yang nampaknya tergantung pada kemajuan diskusi.
Sebelumnya pada 21 Maret, Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi penghancuran pembangkit seperti Damavand dimana sebagai penyuplai sepertiga listrik Tehran untuk 10 juta warga.
Diketahui akibat blokade tanker oleh Iran harga minyak dunia naik hingga US$100/barel. Diancam oleh Trump, Iran pun tak gentar. Juru bicara Khatam Al-Anbiya Ibrahim Zolfaghari malah mengancam akan balas dengan target energi AS-Israel, tutup total Hormuz, dan hancurkan perusahaan AS di kawasan.
Sebelumnya pada 20 Maret, Trump juga mencabut sementara sanksi ekspor 140 juta barel minyak Iran selama 30 hari ke Asia guna tekan inflasi energi AS, di mana bensin tembus US$3,91/galon—tertinggi sejak 2022. 74% warga AS merasakan dampak lantas 48%-nya menyalahkan Trump atas eskalasi perang Israel-Iran. Akibatnya menimbulkan antrean SPBU panjang, banyak warga AS juga beralih transportasi umum atau mobil listrik.
Tanda-tanda melemahnya AS pun terlihat dengan ditariknya kapal induk USS Gerald R. Ford ditarik dari Laut Merah pada 17 Maret. Meski pemerintah menyebutnya hal itu akibat kebakaran laundry 12 Maret yang melukai dua awak serta merusak ruang hidup. Kapal induk itu dikatakan menuju Crete untuk perbaikan. Penarikan ini tentu mengurangi kekuatan udara di Operation Epic Fury dalam melawan Iran.
Foto : Istimewa
