UKT di Indonesia Makin Naik, Harvard University Justru Bebaskan Biaya Kuliah

UKT di Indonesia Makin Naik, Harvard University Justru Bebaskan Biaya Kuliah UKT di Indonesia Makin Naik, Harvard University Justru Bebaskan Biaya Kuliah

Jakarta, GPriority.co.id – Harvard University tengah membuat langkah besar mulai 2025. Kini mahasiswa dari keluarga berpenghasilan USD 100.000 per tahun atau kurang, dibebaskan biaya kuliahnya.

Selain biaya kuliah, mereka yang termasuk golongan tersebut juga akan digratiskan tempat tinggal, makanan, asuransi kesehatan, dan biaya perjalanan, seperti dilansir dari The Harvard Gazette.

Pengumuman tersebut dibuat kemarin, 17 Maret, yang mengonfirmasi bahwa mahasiswa tahun pertama juga akan menerima hibah awal sebesar USD 2.000, sementara mahasiswa tingkat tiga akan mendapatkan hibah awal sebesar  USD 2.000 untuk membantu transisi pasca-kelulusan.

Sementara bagi mahasiswa dari keluarga yang berpenghasilan hingga USD 200.000 per tahun juga akan mendapatkan biaya kuliah gratis, ditambah bantuan tambahan berdasarkan kebutuhan finansial. Perluasan ini membuat Harvard lebih mudah diakses dari sebelumnya, dengan 86% keluarga di AS kini memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan keuangan.

Sejak meluncurkan inisiatif bantuan keuangannya pada 2004, Harvard University telah memberikan lebih dari USD 3,6 miliar dalam bentuk hibah, dengan anggaran 2025–2026 sebesar USD 275 juta untuk meringankan beban finansial mahasiswa. Dengan 55% mahasiswa sarjana menerima bantuan, Harvard terus menarik bakat terbaik dan memperkaya komunitas akademisnya dengan perspektif yang beragam.

Lulusan Harvard Masih Banyak yang Menganggur?

Meski kabar pembebasan biaya kuliah Harvard University dianggap sebagai angin segar, sebelumnya menurut sebuah laporan, sebanyak 25 % lulusan universitas ini masih banyak yang menganggur.

Laporan dari media AS, Wasted, mengatakan sebanyak 25 persen lulusan MBA Harvard Business School (HBS) 2024 masih menganggur. Hal tersebut bahkan menjadi angka tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Fenomena susah cari kerja ini juga terjadi pada program MBA terkemuka lainnya, seperti Stanford dan Wharton, yang menandakan terjadinya perlambatan pasar kerja akibat ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, banyak juga perusahaan besar mengurangi perekrutan atau memilih untuk menundanya karena inflasi tinggi dan risiko resesi. Akibatnya, para lulusan MBA yang sebelumnya mudah mendapatkan pekerjaan, kini harus menghadapi tantangan yang lebih besar.

Selain berkaitan dengan faktor ekonomi, perubahan strategi perekrutan perusahaan yang saat ini lebih menekankan keterampilan teknis dan pengalaman spesifik, membuat para lulusan dengan latar belakang umum menjadi kian sulit dapat bersaing.

Editor: Novita Intan

Foto : Dok. Harvard University