Jakarta, GPriority.co.id – Kesepian atau loneliness pada usia lanjut kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya kaitan antara perasaan kesepian dan penurunan kemampuan memori pada orang dewasa yang lebih tua.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ‘Aging & Mental Health’ dan menjadi perhatian karena melibatkan lebih dari 10.000 responden lansia di berbagai negara Eropa.
Melansir laporan New York Post, penelitian tersebut menunjukkan bahwa lansia yang merasa kesepian cenderung memiliki skor memori lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial lebih baik.
“Temuan bahwa kesepian secara signifikan memengaruhi memori, tetapi tidak mempercepat penurunan memori dari waktu ke waktu adalah hasil yang mengejutkan,” ujar peneliti dalam studi tersebut.
Penelitian ini melibatkan 10.217 orang dewasa berusia 65 hingga 94 tahun dari 12 negara di Eropa. Para peserta diminta menjalani tes memori seperti mengingat daftar kata secara langsung maupun setelah jeda waktu tertentu. Tingkat kesepian diukur melalui pertanyaan tentang seberapa sering mereka merasa terisolasi, ditinggalkan, atau tidak memiliki teman dekat.
Hasil studi menunjukkan bahwa kelompok dengan tingkat kesepian tinggi memiliki kemampuan memori lebih rendah pada awal penelitian. Namun, yang menarik, laju penurunan memori dalam jangka waktu tujuh tahun ternyata tidak berbeda secara signifikan dibandingkan kelompok yang tidak merasa kesepian.
Peneliti utama, Dr. Luis Carlos Venegas-Sanabria, menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan kesepian lebih berpengaruh pada kondisi awal fungsi kognitif seseorang, bukan mempercepat proses penurunan ingatan.
“Hal ini menunjukkan bahwa kesepian mungkin lebih berperan dalam kondisi awal memori dibandingkan dalam penurunan progresifnya,” jelasnya.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kesepian tetap tidak boleh dianggap sepele. Banyak ahli kesehatan mental mengaitkan kesepian kronis dengan berbagai risiko kesehatan lain, termasuk depresi, tekanan darah tinggi, hingga gangguan kognitif jangka panjang.
Penelitian ini juga memperkuat pemahaman bahwa kesehatan sosial memiliki peran penting dalam menjaga fungsi otak di usia lanjut. Interaksi sosial, komunikasi rutin dengan keluarga, serta keterlibatan dalam komunitas dianggap dapat membantu menjaga ketajaman memori.
Ahli psikoterapi yang dikutip dalam laporan tersebut menekankan pentingnya aktivitas sosial seperti bergabung dalam klub, kegiatan komunitas, atau sekadar menjaga hubungan rutin dengan teman dan keluarga sebagai langkah pencegahan.
