Burisrawa, Tokoh Pewayangan Antagonis Sekutu Kurawa

“Dasar Burisrawa”. Anda pasti pernah mendengar cacian seperti ini. Mungkin bagi orang jawa, cacian ini akan membuat mereka marah. Karena Burisrawa merupakan sosok antagonis (jahat) di dalam dunia pewayangan.

Arya Burisrawa itulah nama yang diberikan Prabu Salya, Raja Mandaraka saat sang permaisuri Dewi Pujawati melahirkan anak ke-4 yang berwujud seorang lelaki.

Dalam kisah pewayangan disebutkan bahwa Burisrawa mempunyai empat orang saudara kandung masing-masing bernama ; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati dan Bambang Rukmarata.

Dewi Erawati merupakan kakak sulung dari yang diperistri oleh Raja Mandura Prabu Baladewa. Dewi Surtikanti merupakan kakak nomor 2 yang memiliki paras cantik dan diperistri oleh Adipati Karna. Dewi Banowati merupakan kakak kandung nomor 3 yang menjadi istri Prabu Anom Duryudana,raja Astina.Sedangkan adiknya yang bungsu bernama Rukmarata yang tampan dan gagah.

Tidak seperti saudaranya yang lain,wajah dan penampilan Burisrawa terlihat buruk dan sangat menakutkan. Menurut dalang Endi Supendi yang diwawancarai via WhatsApp pada Rabu (12/1/2021) Keadaan Burisrawa yang demikian ini akibat hukuman dari para dewa bagi Prabu Salya yang di masa mudanya telah membunuh mertuanya sendiri Begawan Bagaspati.” Dikisahkan dalam pewayangan, Prabu Salya yang memakai nama Narasoma saat masih muda,merasa malu mempunyai mertua berujud raksasa buruk dan menyeramkan, sehingga membuatnya gelap hati dan langsung membunuhnya,” kata Endi.

Endi juga mengisahkan, saat remaja,Burisrawa sangat mencintai Wara Subadra, yang merupakan adik kandung dari Prabu Baladewa dan Kresna.” Burisrawa sudah mengenal Subadra ketika masih remaja. Oleh Burisrawa, Subadra sering dipanggil Lara Ireng. Begitu cintanya pada lara Ireng, Burisrawa pada saat perkawinan Dewi Erawati dengan Baladewa mencoba merayu Lara Ireng namun dihalang-halangi oleh Setyaki sehingga terjadilah perkelahian hebat. Baladewa dan Kresna pun langsung melerai mereka,dan menjanjikan kelak sesudah dewasa Burisrawa akan dinikahkan dengan Lara Ireng,” jelas Endi.
Namun kenyataan berkata lain, karena setelah dewasa Lara Ireng justru dinikahkan dengan Arjuna, seorang ksatria tampan dari Pandawa. Karena Arjuna sanggup memenuhi persyaratan mahar perkawinan yang diajukan Subadra.Sementara Burisrawa walaupun telah dibantu para Kurawa tidak sanggup memenuhi persyaratan mahar yang diminta oleh Subadra.
Karena merasa dikhianati, Burisrawa yang dibantu oleh para Kurawa langsung membuat onar dalam pernikahan Arjuna dan Subadra.Namun keonaran tersebut dapat dikalahkan oleh para Pandawa. Dan untuk ke-2 kalinya Burisrawa kembali mengadu kesaktian dengan Setyaki.Dan untuk kedua kalinya Baladewa serta Kresna melerai mereka.
Bertahun-tahun menderita karena patah hati,Burisrawa pun memutuskan pergi meninggalkan tempat tinggalnya,di Kasatrian Cindekembang menuju hutan Krendawahana. Di sana ia memohon bantuan Batari Durga,agar dapat melampiaskan hasrat cintanya pada Wara Subadra,walaupun hanya semalam saja.
Batari Durga yang merasa kasihan,akhirnya mengabulkan permohonan Burisrawa. Dengan bantuan Batarai Durga, ia berhasil menyusup ke Kasatrian Madukara,tempat tinggal Arjuna dan Subadra.Kebetulan ketika itu,Arjuna sedang berburu ke hutan Minangsraya.
Di Madukara,Burisrawa merayu Subadra,tetapi tidak ditanggapinya. Karena sudah tidak tahan lagi memendam hasratnya, Burisrawa berniat untuk memperkosa Subadra,tetapi Subadra yang mencintai Arjuna memilih mati daripada ternoda. Setelah Subadra mati,Burisrawa kebingungan dan melarikan diri.Namun aksi tersebut diketahui Antareja,salah seorang anak Bima dan ditangkap. Dengan bantuan Antareja pula,Dewi Subadra berhasil dihidupkan kembali. Burisrawa pun disidang dan dijatuhi hukuman mati. Namun Tuhan masih sayang kepadanya, karena kakaknya,Dewi Banowati merayu dan membujuk Arjuna agar Burisrawa dibebaskan. Arjuna pun luluh dan mengabulkan permintaan Banowati.
Sebelum terjadinya perang Baratayuda,Kresna selaku duta para Pandawa datang ke Kerajaan Astina guna melakukan perundingan untuk menuntut kembali kekuasaan atas separoh Kerajaan Astina dan seluruh Amarta. Namun permintaan tersebut gagal, dan Kresna pun dikeroyok oleh Kurawa.Burisrawa yang hadir di tempat itupun hendak ikut mengeroyok Kresna,namun dihalang-halangi oleh Setyaki.
“Terjadilah perkelahian untuk yang ketiga kalinya,namun dapat dilerai kembali oleh Kresna.Perkelahian yang tidak tuntas ini menyebabkan berkobarnya api dendam diantara mereka.Mereka sama-sama bersumpah hendak saling membunuh pada perang Baratayuda kelak,” jelas Endi.
Dalam perang Baratayuda, Burisrawa dikenal sebagai panglima perang berwujud raksasa yang sakti, sehingga mampu membunuh para prajurit Pandawa,termasuk sepuluh orang anak Setyaki.Sesuai dengan sumpah mereka,keduanya sengaja bertemu di medan laga.Perang tanding itu berlangsung seru dan seimbang.Setelah beberapa lama berperang,Setyaki kewalahan dan dapat diringkus Burisrawa.Tubuh Setyaki yang terkapar ditindihnya,tangan Burisrawa telah siap dengan candrasa untuk menebas kepala Setyaki.Dengan bantuan Arjuna,tangan Burisrawa yang terangkat ke atas yang menggengam candrasa itu berhasil ditebas dengan panah Arjuna.Tangan Burisrawa menjadi buntung,karena kebingungannya Burisrawa menjadi tidak waspada.Tiba-tiba saja Setyaki segera meraih buntungan tangan Burisrawa yang masih menggengam candrasa itu untuk ditebaskan ke leher Burisrawa.Maka tewaslah Burisrawa,anak Prabu Salya dengan candrasa pusakanya sendiri.(Hs.Foto.dok.pribadi)

Related posts