Jakarta, GPriority.co.id – Para peneliti CSIS menanggapi Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM), pada Senin (13/1).
Salah satu hal yang menjadi fokus pembahasan yaitu bergabungnya Indonesia dengan BRICS.
Menurut salah satu peneliti CSIS, Andrew Mantong, bergabungnya Indonesia dengan BRICS merupakan sebuah inovasi di era pemerintahan Presiden Prabowo.

Kendati demikian, Indonesia juga harus mempunyai strategi ke depan untuk meningkatkan hubungan dengan sejumlah negara.
Menurut Andre, negara yang dimaksud yaitu negara-negara pembentuk sistem tatanan dunia yang juga dibahas oleh Menlu Sugiono dalam pidatonya.
Selain peningkatan hubungan dalam level pemerintahan, Indonesia juga harus meningkatkan hubungan antarindividu atau people to people.
Misalnya saja dengan para pelaku bisnis, masyarakat sipil, hingga institusi penelitian yang masih terikat prinsip-prinsip good governance, demokrasi, serta kesetaraan.
Dengan bergabungnya Indonesia ke BRICS, Andrew juga turut mempertanyakan soal program-program yang akan dijalankan pemerintah Indonesia usai menjadi anggota BRICS.
Menurutnya, Indonesia harus mempunyai tujuan yang jelas setelah bergabung ke BRICS.
Seperti kepentingannya, agenda ke depannya, hingga apa yang ingin dibangun Indonesia untuk dunia di masa yang akan datang.

Indonesia Diprediksi Lebih Dekat Dengan China dan Rusia
Sebelumnya, dikutip dari Tempo, dengan bergabungnya Indonesia ke BRICS, maka Indonesia dapat lebih dekat dengan China dan Rusia.
Namun kemungkinan besar, Indonesia akan jauh dengan mitra-mitra lama yang tidak sejalan dengan kedua negara tersebut.
Peneliti CSIS, Muhammad Waffaa Kharisma berpendapat, kemungkinan negara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, bisa sangat reaktif terhadap BRICS.
Padahal Amerika Serikat sendiri merupakan negara yang memiliki kerja sama ekonomi yang baik dengan Indonesia.
Sedangkan Indonesia, belum mempunyai jejak kerja sama ekonomi yang kuat dengan negara-negara BRICS, kecuali dengan China.
Namun, bergabungnya Indonesia dengan BRICS, memungkinan Indonesia untuk menemukan mitra-mitra baru dengan kesepakatan bisnis yang baru.
Foto : GPriority/Nindya Farhah Azzahrah
